Senin, 18 April 2011

Imam As-suyuthi


Biografi Imam As-suyuthi

 

Nama dan nasabnya :

Nama asli beliau Abdurrahman bin abu bakar bin Muhammad bin abu bakar bin umar bin kholil bin nasr bin khidr bin himam al-jalal bin kamal bin nasiruddin assuyuthi. Dia dikenal dengan ibnu assuyuthi.

Beliau adalah seorang yatim. Ayahnya wafat ketika dia berumur lima tahun tujuh bulan . Beliau di besarkan dari keluarga   yang  berketurunan mulia. Beliau memiliki kecerdasan sejak kecil.

 

 Assuyuthi menceritakan kepada kami dalam kitabnya husnul muhadoroh tentang keluarganya, beliau berkata:

 

" Adapun kakekku yang tertinggi adalah himam addin. Beliau adalah seorang ahli ilmu dan cerdas. Selain beliau, banyak yang menjadi peninggi negara. Ada juga yang menjadi wali hakim didaerah setempat. selain itu juga ada yang menjadi pedagang pada masa itu. Kemudian, assyuyuthi membangun sekolah yang telah di waqofkan oleh kakek-kakeknya dahulu. Mereka adalah kalangan yang kaya raya. Sehingga As-suyuthi pernah mengatakan bahwasanya aku tidak tau siapa yang telah banyak memberikan bantuan kecuali kedua orangtuaku".

 

Pendidikannya terhadap ilmu:

Imam As-suyuthi bercerita tentang perjalanannya dalam menuntut ilmu, dia pun berkata: bapakku pernah membawaku ke tempat Syekh Muhammad Majzub    beliau adalah seorang wali besar yang memiliki kepercayaaan yang tinggi. Dia telah mengajarku dan memuliakanku. Aku hidup dalam keadaan yatim, namun aku telah hafal qur'an sejak berumur delapan tahun. Selain itu juga aku hafal teori fiqh dan usulnya( ushul fiqh), dan alfiah ibnu malik. Aku mulai sibuk dengan ilmu sejak tahun  enam puluh empat. Aku belajar nahwu maupun fiqh bersama para syekh( kumpulan syekh). Aku juga mempelajari ilmu faroidh dari 'allamah fardhi sezaman dengan syekh syihabuddin assayar masyahi sebagaimana dikatakan: sesungguhnya beliau sangat tua sekali, hingga mencapai seratus tahun dari umurnya. Hanya Allah yang mengetahui hal yang demikian. Aku mempelajari syarah 'alal majmu'. Sehingga aku mendapat kepercayaan mengajar bahasa arab. Ianya bermula ketika tahun enam puluh enam.

 

Pada tahun ini juga aku mengarang berbagai macam kitab. Adapun kitab yang pertama  adalah syarhu al-isti'azah wal basmalah. Aku mempelajarinya dari syekh islam 'alamaddin al-balqini. Aku juga menulis resensi buku tersebut. Kemudian, setelah wafat beliau akhirya aku belajar fiqh bersama anaknya.. aku juga mempelajari kitab tentang attadrib    sampai ke bab wikalah. Selain itu juga, aku mempelajari kitab alhawi assoghir ilal adad , alminhaj ila azzakah, attanbih ila qorib dari bab zakat, sedikit dari kitab arroudoh dari bab qodo'.begitu juga sedikit dari kitab syaroh minhaj    punya azzarkasi. Aku juga mempelajari kitab kebangkitan setelah kematian ( ihyail mawat ilalwasoya) dan lain-lain. Akhirnya pada tahun tujuh puluh enam aku diberi kepercayaan untuk mengajar.

 

Aku juga belajar bersama  syekh islam sarofaddin almanawi, kemudian aku membaca sedikit dari kita al-minhaj. Selain itu juga aku membaca kitab al-bahjah dan     tafsir baidhowi. Aku juga pernah belajar hadist dan bahasa arab kepada ulama syekh taqoddin assyamanli alhanafi. Aku mempelajarinya selama empat tahun. Aku juga       menulis resensi buku syarah alfiah ibnu malik dan semua kumpulan bahasa arab yang   dikarang. Beliau benar-benar berjasa padaku. Semua perkataannya bersandarkan pada   hadist.

 

Kemudian, aku juga belajar bersama ulama ustadz alwujud muhyiddin alkafiji selama empat belas tahun. Aku banyak mempelajari kitab bersama beliau. Misalnya, tentang tafsir, usul, bahasa arab, ma'ani dan sebagainya. Aku juga mendapatkan penghargaan atau ijazah dari beliau.

 

Dan yang terakhir. Aku belajar kepada syekh saifuddin alhanafi. Diantaranya; alkassyaf, attaudhih wahasyiah 'alaihi dan talkhis almiftah.                                                                                                          

 

   

Kedudukanya dalam ilmu

 

    Kita telah di paparkan tadi perjalanan hidup imam suyuthi. Beliau termasuk ulama yang memiliki kedudukan tinggi.Beliau banyak mendapatkan penghargaan besar dari para syekh yang termashur. Imam suyuthi mampu menyusun dan mengarang kitab. Dia mulai mengarang atau menulis buku yang pertamanya sejak berumur tujuh belas tahun., yaitu pada tahun 866 Hijriah. Adapun kitab yang pertama kali dikarang adalah (( syarh al'isti'azah wa bismillah)). Beliau menyebutkan dalam ((husnul muhadhoroh)) kitab yang dikarangnya sebanyak tiga ratus. Selain itu juga, ibnu iyyas menyebutkan dalam kitab (( tarikh misr)) bahwa karangan imam suyuthi lebih dari enam ratus buku. Ibnu qodhi menyebutkan ada seribu karangan. Dan sebagian ulama kontemporer menyebutkannya sebanyak sembilan ratus karangan.  

 

 

  Akhlak beliau

 

       Imam suyuthi rohimahullah seorang yang mulia, soleh, taqwa, rendah hati dan rajin. Beliau juga sangat cerdas dan berpikir tangkas. Dia memiliki ketajaman otak , kata-katanya penuh bermanfaat, semuanya terbukti dalam kitabnya yang berjudul (( husnul muhadhoroh)).     

 

   Kesungguhannya dalam fiqih

 

      Kita mengetahui bahwa  imam suyuthi banyak mempelajari fiqih dari ulama-ulama pada masanya. Dia pernah belajar kepada assyams assyarmasahi minhaj al-fiqh punya imam annawawi dan .minhaj al-usul. Dan masih banyak lagi kitab yang beliau pelajari yang tidak kami sebutkan disini.

 

      Sejarah wafat, sakit dan tempat di makamkan

  

Beliau sakit selama tujuh hari  berturut-turut smpailah beliau wafat. Menurut sejarah, beliau wafat pada malam jum'at sembilan belas jumadil awal tahun (911 H).

 

 

Adapun sakit yang ia derita adalah ada bengkakan lengan sebelah kirinya. Ustadz muhammad 'anan berkata: ketika sakit beliau masih sempat mengajar ilmu hadist kepada kami. Padahal sakit yang di deritanya adalah penyumbatan pembuluh darah.

Beliau wafat ketika berumur enam puluh satu tahun sepuluh bulan delapan belas hari. Beliau di sholatkan oleh  muridnya assya'roni di roudoh bertepatan dengan sholat jum'at di mesjid al-abariqi. Kemudian sholat yang kedua di laksanakan di mesjid baru mesir 'atiqoh. Wallahu a'lam bisshowwab..   

 

 

 

                                               

al-Iqtirah fi ilm Ushul an-nahw


           
            Judul buku         : al-Iqtirah fi ilm Ushul an-nahw
            Pengarang          : Imam Jalaluddin al-Suyuti
            Editor                : Ust. Dr. Hamdi ‘Abd al-fattah 
            Penerbit             : Maktabah adab
            Jumlah halaman : 316 halaman

Ushul al-nahw atau pondasi tata bahasa arab, bisa dikatakan semacam meta-grammar dalam disiplin ilmu bahasa arab. Kedudukan ushul al-Nahw terhadap nahwu sama kedudukannya dengan ushul  al-fiqh terhadap fiqh. Yang pertama meletakan landasan bagi yang kedua. Kedudukan keduanya bisa dianggap lebih tinggi daripada nahw atau fiqh, tetapi ushul al-nahw tetap bersifat partikular karena berkaitan dengan bidang yang spesifik yaitu, tata bahasa arab (nahwu).

Ada banyak buku yang membahas tema ini dimulai dengan ibn sarraj yang pertama kali memakai istilah Ushul an-nahw dalam kitabnya “al-usul fi al-Nahw”, namun judulnya berbeda  dari isinya yang ternyata lebih banyak membahas kaidah dan permasalahan nahw dibandingkan ushul al-nahw itu sendiri. Estafet perjuangan kembali dilanjutkan dengan munculnya al-khasais karya Ibn Jinny  dan Lam’u al-adilah karya al-Anbary. Keduanya memberikan kontribusi yang besar dalam perkembangan cabang ilmu ini.      

Akhirnya pada abad 10, ilmu ini mulai mencapai zaman keemasannya dengan kedatangan As-Suyuti, seorang ulama besar yang terkenal menguasai berbagai disiplin ilmu dan mengarang banyak kitab di dalamnya. As-suyuti dalam masterpiece-nya al-iqtirah fi ilm Ushul al-nahw, berhasil menyempurnakan ushul nahw sebagai sebuah cabang ilmu yang membahas dalil-dalil nahw secara global untuk menemukan sebuah konklusi (kaidah) dari dalil tersebut. Kitab ini menjadi  masdar asasi dalam ushul al-nahw karena merupakan kolaborasi dari konsep ulama-ulama sebelumnya dan konsep As-Suyuti sendiri tentunya. Ditambah  penyusunan setiap bab pembahasan yang mengikuti sistematika pembahasan ushul fiqh, yang menunjukkan betapa luasnya wawasan beliau. Hal ini memberikan poin lebih dibandingkan kitab-kitab sebelumnya yang belum sistematis.

As-Suyuti membagi kitabnya dalam beberapa muqadimah dan 7 judul besar pembahasan. beliau memulai kitabnya dengan menjelaskan definisi ushul An-Nahw,dan lingkup cakupannya. Kemudian beralih ke asal muasal bahasa dan perbedaan pendapat ulama di dalamnya, apakah bahasa merupakan ilham dari Allah atau kreasi manusia. Dalam hal ini, beliau mengutip secara langsung klasifikasi mazhab tiap pendapat versi ibn jinni. pada halaman selanjutnya, beliau berbicara tentang dalalat al-nahwiyah, hukm an-nahw dan pembagian alfazd menurut ibn tharawah.

Setelah muqadimah panjang dari ushul al-nahw, Al-Suyuti mulai memasuki kawasan adillah An-Nahwiyah yang menjadi inspirasi terciptanya sebuah kaidah. Beliau membuka awal pembahasannya dengan dalil as-sima’. Sima’ dalam definisi al-suyuti adalah setiap kalam (kalimat-kalimat bahasa arab yang bisa dipahami) yang berasal dari sumber yang dipercaya akan kefasihannya. Dari definisi ini, masdar sima’ terbagi menjadi tiga, yaitu : kalamullah (al-Qur’an), kalam Nabi Saw. Dan  kalam qabilah-qabilah Arab.
Adapun Dalil kedua: ijma’. Yaitu kesepakatan ahli nahw dari 2 kota (basrah dan kufah) dalam sebuah hukum. Dicontohkan tidak berlakunya larangan Abul abas dalam hukum mendahulukan khabar laysa dari laysa itu sendiri karena para basrayyin dan kufiyin telah sepakat membolehkan hal tersebut.

Lalu dalil ketiga : qiyas, merupakan dalil terbanyak yang dipakai oleh nuhât  dalam istinbat al-qâidah. Beliau menyebutkan dalam kitab ini, mulai dari definisi qiyas, rukun-rukunnya (maqîs alaîh, maqîs, hukm dan ‘illah) dan klasifikasinya.

sedangkan dalil terakhir dari adillah nahwiyah ashliyah adalah istishab, yaitu kondisi asal (semula) dari sebuah lafadz jika tidak ada dalil yang mengubah keadaannya. Contohnya, isim yang pada asalnya adalah Mu’rab, maka akan tetap mu’rab sampai ada dalil yang membuat dia menjadi mabni seperti tasybih al-hurûf  baik itu tasybih alwadh’I, isti’mal ataupun iftiqar.

Kemudian pada bab kelima, As-Suyuti menyebutkan bahwa masih banyak adilah nahwiyah lainnya yang biasanya dipakai oleh para nuhat, diantaranya : istidlal bil ‘aks, istidlal bibayan al-‘illah, istidlal bi’adam ad-dalil fi sya’I ‘ala nafîhi, istidlal bi al-ushul, istidlal bi ‘adam an-nazhir, istihsân, istiqra’ dan ad-dalil almusamma bi al-bâqi.

Dalam bab ke-enam, As-Suyuti membahas ta’arudh dan tarjih. Beliau mencoba menjawab permasalahan ketika berkumpulnya beberapa adillah nahwiyah dalam satu masalah. Lalu pada bab terakhir, kitab ini ditutup dengan pembahasan tentang siapa penggagas awal ilmu nahw serta syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang mustanbith al-qaidah dalam ilmu ini.

Kitab ini merupakan sebuah karya monumental As-Suyuti dalam bidang ushul an-nahw dan referensi utama bagi generasi yang datang setelahnya. Kitab yang layak untuk masuk dalam daftar target bacaan mingguan dan belanja kitab ma’rodh tahunan anda.. At the last, jangan mengaku ahlu an-nahw sebelum anda membaca kitab ini !!.

Jalaluddien Ar-rumi


                                                    Jalaluddien Ar-rumi

Beliau adalah seorang sufi terkemuka yang sampai sekarang masih dikenang oleh khalayak ramai, baik perjuangan maupun lingkar spiritual yang pernah digeluti. Kespektakuleran dalam dunia tasawuf maupun kepenyairan yang ia tekuni benar-benar menggugah jiwa setiap orang. Hal itu karena ia mampu menyuguhkan beragam pandangan yang berbeda dalam versi dunia, tempat ia mengapresiasikan cinta sejatinya. Meskipun karya sastra menjadi kenikmatan tersendiri dari tarian ilahi yang selalu disenandungkan lewat syi'ir-syi'ir kekhusyukan, tetapi selama itu pula ia tidak pernah nihil untuk memperdalam beribadah terhadap Allah swt.. Sampai-sampai seorang orientalis Inggris Reynold A Nicholson menggambarkan tentang sosoknya,''Dia penyair mistik terbesar sepanjang zaman''. Begitu pula dengan komentar Jami, penyair Persia klasik: ''Ia bukan Nabi, tetapi ia mampu menulis kitab suci''.

Jalaluddien dilahirkan pada tanggal 30 september 1207 Masehi bertempat di Balkh,  yang kini menjadi salah satu kota di Negara Afganistan. Ayah beliau bernama Bahauddin Walad, seorang ulama dan mistikus ulung yang terkenal dengan wawasan pengetahuan. Pun tak jarang berbeda pandangan dengan penguasa. Meskipun ia bisa bertahan dengan kemasyhurannya, tetapi karena perbedaan 'konsep' antara Bahauddin dengan sultan yang berkuasa di kota tersebut, pada akhirnya ia dan keluarga harus terusir dan pindah ke Aleppo (Damaskus). Di tempat inilah Jalaluddien memperoleh banyak ilmu pengetahuan dari ulama-ulama terkenl pada masanya. Hal tersebut yang  nantinya mampu menggiring sosok Jalaluddien pada kemuliaan dan keagungan agama sejati.

Tak lama setelah menetap di Damaskus, Jalaluddien dan keluarganya pindah ke Laranda, sebuah kota di Anatolia Tengah, itupun atas permintaan seorang Sultan benama: Seljuk Alauddin Kaykobad. Kabarnya, dalam proses perpindahan tersebut sang Sultan menulis surat kepada ayahnya dengan kutipan sebagai berikut: ''Kendati saya tak pernah menundukkan kepala kepada seseorang, saya siap menjadi pelayan dan pengikut setia anda''. Tak lama setelah kepindahan mereka di kota yang baru, ibu Jalaluddien, Mu'min Khatum, meninggal. Kemudian dalam usia 18 tahun Jalaluddien menikah dengan dikaruniai seorang anak yang bernama Sultan Walad. Setahun kemudian keluarga Jalaluddien pindah ke Konya, beberapa meter dari kota sebelumnya. Dan di kota inilah ia dikaruniai anak ke dua yang bermana Alauddien. Setelah dua tahun berlangsung, ayah Jalaluddien meninggal dunia pada usia 82.

Era barupun dialami Jalaluddien, dengan mengganti posisi ayahnya dan mengajar ilmu-ilmu ketuhanan tradisional. Pada suatu hari, ia ditemui oleh salah seorang dari murid kesayangan ayahnya, Burhanuddien Muhaqqiq. Setelah menyadari bahwa sang guru telah tiada, Muhaqqiq mewariskan ilmunya pada Jalaluddien dengan mematangkan ilmu tasawuf yang selama ini didalaminya. 8 tahun mereka habiskan untuk menekuni dunia tasawuf, sampai pada akhirnya Muhaqqiq kembali ke Kayseri.

Karena keuletan dan ketangkasannya dalam mendalami beragam seni keilmuan islam,  mampu menempatkan Jalaluddien di atas semua ulama Konya. Pada usianya yang ke 37, 1244 Masehi ia meraih gelar 'Maulana Rumi' (guru bangsa rum).
Ada sebuah peristiwa menakjubkan yang mampu merubah hidup Jalaluddien; lebih memfokuskan studi keilmuannya pada dunia mistik. Hal itu terjadi ketika ia bertemu dengan Syamsuddien Tabriz. Ia menanyakan satu hal yang membuat

Jalaluddien tertarik pada dunia barunya. Sebuah riwayat mengatakan bahwa Syams bertanya: ''Siapa yang lebih agung, Rosulullah yang berdoa, ''Kami tak mengenal-Mu seperti seharusnya', atau seorang sufi Persia Bayazid Bishani yang berkata, 'Subhani, maha suci diriku, betapa agungnya kekuasaanku'…''.

Sejak itu pula Syams dan Jalaluddien menghabiskan waktu bersama-sama, khusyu' menyucikan diri demi cinta ilahi, sampai pada terbunuhnya Syams lantaran kecemburuan warga Konya terhadapnya. Meskipun terbunuhnya Syams membuat Jalaluddien terpukul, tetapi ia tidak lantas berhenti menjalani mistiknya. Apalagi dalam selang beberapa waktu berikutnya ia dipertemukan dengan Shalahuddien, sahabat yang  membuatnya mampu menggubah syi'ir-syi'ir Ilahi. Sampai pada akhirnya Jalaluddien Ar-rumi meninggal pada tanggal 17 desember 1273 dan tidak pernah lepas dari tarian syi'ir-syi'irnya