Jalaluddien Ar-rumi
Beliau adalah seorang sufi terkemuka yang sampai sekarang masih dikenang oleh khalayak ramai, baik perjuangan maupun lingkar spiritual yang pernah digeluti. Kespektakuleran dalam dunia tasawuf maupun kepenyairan yang ia tekuni benar-benar menggugah jiwa setiap orang. Hal itu karena ia mampu menyuguhkan beragam pandangan yang berbeda dalam versi dunia, tempat ia mengapresiasikan cinta sejatinya. Meskipun karya sastra menjadi kenikmatan tersendiri dari tarian ilahi yang selalu disenandungkan lewat syi'ir-syi'ir kekhusyukan, tetapi selama itu pula ia tidak pernah nihil untuk memperdalam beribadah terhadap Allah swt.. Sampai-sampai seorang orientalis Inggris Reynold A Nicholson menggambarkan tentang sosoknya,''Dia penyair mistik terbesar sepanjang zaman''. Begitu pula dengan komentar Jami, penyair Persia klasik: ''Ia bukan Nabi, tetapi ia mampu menulis kitab suci''.
Jalaluddien dilahirkan pada tanggal 30 september 1207 Masehi bertempat di Balkh, yang kini menjadi salah satu kota di Negara Afganistan. Ayah beliau bernama Bahauddin Walad, seorang ulama dan mistikus ulung yang terkenal dengan wawasan pengetahuan. Pun tak jarang berbeda pandangan dengan penguasa. Meskipun ia bisa bertahan dengan kemasyhurannya, tetapi karena perbedaan 'konsep' antara Bahauddin dengan sultan yang berkuasa di kota tersebut, pada akhirnya ia dan keluarga harus terusir dan pindah ke Aleppo (Damaskus). Di tempat inilah Jalaluddien memperoleh banyak ilmu pengetahuan dari ulama-ulama terkenl pada masanya. Hal tersebut yang nantinya mampu menggiring sosok Jalaluddien pada kemuliaan dan keagungan agama sejati.
Tak lama setelah menetap di Damaskus, Jalaluddien dan keluarganya pindah ke Laranda, sebuah kota di Anatolia Tengah, itupun atas permintaan seorang Sultan benama: Seljuk Alauddin Kaykobad. Kabarnya, dalam proses perpindahan tersebut sang Sultan menulis surat kepada ayahnya dengan kutipan sebagai berikut: ''Kendati saya tak pernah menundukkan kepala kepada seseorang, saya siap menjadi pelayan dan pengikut setia anda''. Tak lama setelah kepindahan mereka di kota yang baru, ibu Jalaluddien, Mu'min Khatum, meninggal. Kemudian dalam usia 18 tahun Jalaluddien menikah dengan dikaruniai seorang anak yang bernama Sultan Walad. Setahun kemudian keluarga Jalaluddien pindah ke Konya, beberapa meter dari kota sebelumnya. Dan di kota inilah ia dikaruniai anak ke dua yang bermana Alauddien. Setelah dua tahun berlangsung, ayah Jalaluddien meninggal dunia pada usia 82.
Era barupun dialami Jalaluddien, dengan mengganti posisi ayahnya dan mengajar ilmu-ilmu ketuhanan tradisional. Pada suatu hari, ia ditemui oleh salah seorang dari murid kesayangan ayahnya, Burhanuddien Muhaqqiq. Setelah menyadari bahwa sang guru telah tiada, Muhaqqiq mewariskan ilmunya pada Jalaluddien dengan mematangkan ilmu tasawuf yang selama ini didalaminya. 8 tahun mereka habiskan untuk menekuni dunia tasawuf, sampai pada akhirnya Muhaqqiq kembali ke Kayseri.
Karena keuletan dan ketangkasannya dalam mendalami beragam seni keilmuan islam, mampu menempatkan Jalaluddien di atas semua ulama Konya. Pada usianya yang ke 37, 1244 Masehi ia meraih gelar 'Maulana Rumi' (guru bangsa rum).
Ada sebuah peristiwa menakjubkan yang mampu merubah hidup Jalaluddien; lebih memfokuskan studi keilmuannya pada dunia mistik. Hal itu terjadi ketika ia bertemu dengan Syamsuddien Tabriz. Ia menanyakan satu hal yang membuat
Jalaluddien tertarik pada dunia barunya. Sebuah riwayat mengatakan bahwa Syams bertanya: ''Siapa yang lebih agung, Rosulullah yang berdoa, ''Kami tak mengenal-Mu seperti seharusnya', atau seorang sufi Persia Bayazid Bishani yang berkata, 'Subhani, maha suci diriku, betapa agungnya kekuasaanku'…''.
Sejak itu pula Syams dan Jalaluddien menghabiskan waktu bersama-sama, khusyu' menyucikan diri demi cinta ilahi, sampai pada terbunuhnya Syams lantaran kecemburuan warga Konya terhadapnya. Meskipun terbunuhnya Syams membuat Jalaluddien terpukul, tetapi ia tidak lantas berhenti menjalani mistiknya. Apalagi dalam selang beberapa waktu berikutnya ia dipertemukan dengan Shalahuddien, sahabat yang membuatnya mampu menggubah syi'ir-syi'ir Ilahi. Sampai pada akhirnya Jalaluddien Ar-rumi meninggal pada tanggal 17 desember 1273 dan tidak pernah lepas dari tarian syi'ir-syi'irnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar