Minggu, 05 Januari 2025

Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 3 )

 Husein bin Ali bin Abi Thalib menolak untuk berbaiat kepada putra Makhkota , bahkan Mu'awiyah bin Abi Sufyan kala itu seorang Khalifah pun tidak berhasil untuk membujuk Husein bin Ali untuk berbaiat kepada putranya Yazid bin Mu'awiyah. ketika Mu'awiyah mengetahui bahwa Husein bin Ali bakal keluar/tidak ingin bergabung dengan pemerintahan umayyah dibawah pimpinan putranya, maka menjelang ajalnya , " Mu'awiyah berpesan ( berwasiat kepada Putranya Yazid bin Mu'wiyah) untuk memperhatikan Husein bin Ali, putra dari seorang ibu bernama Fatimah binti Rosulillah saw, karena Husein bin Ali merupakan orang yang paling dicintai masyarakat hijaz, dan khususnya madinah, berlemah lembutlah kepadanya, kalaulah diantara kalian berdua terjadi sesuatu / pertikaian, maka cukuplah penduduk Kufah yang pernah membunuh Ayahnya dan mengkhianati saudaranya ( Hasan bin Ali), hindarilah semampu mungkin pertikaian diantara kalian berdua". 

setelah Mu'awiyah wafat, maka Yazid bin Mu'awiyah  mengirimkan surat kepada gubernur Madinah untuk memintanya menemui Husein bin Ali agar legowo dan mau berbaiat kepada yazid bin muawiyah, serta meminta gubernur Kota Madinah memperlakukan Husein bin Ali dan keluarganya dengan perlakuan yang sangat baik. 

setelah penduduk kufah mengetahui bahwa Mu'awiyah bin Abi Sufyan wafat, mereka pun mengirimkan surat kepada Husein bin Ali, yang isi suratnya menyatakan bahwa mereka penduduk kufah tidak berbaiat, tunduk kepada pemerintahan umayyah dibawah kepemimpinan Yazid bin Mu'awiyah, dan mereka menunggu kedatangan Husein bin Ali bin Abi Thalib ke Kufah untuk berbaiat kepada Husein bin Ali, kemudian Husein bin Ali mengutus saudara sepupunya Muslim bin Aqil untuk pergi ke Kufah , menyelidiki dan memastikan apakah isi surat ini benar, dan apakah penduduk kufah benar benar ingin berbaiat kepada dia?  

sebelum kita melanjutkan kisah ini, perlu diketahui bahwa mayoritas kisah sejarah ( sumber dan rujukan)  yang beredar dan berbicara tentang keluarnya /tidak tunduknya Husein bin Ali kepada pemerintahan Umayyah dibawah tampuk kepimpinan Yazid bin Mu'awiyah, diambil daripada sejarawan /kisah yang disampaikan oleh Abi Mikhnaf , dan Abi Mikhnaf terkenal dengan sikap fanatiknya kepada ideologi Syiah, yang dengan ini kita mesti berhati-hati dalam menukil kisah sejarah yang bersumber darinya, karena sikap fanatismenya tersebut. 

bersambung .... ... ..... 

dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 40- 41.

Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 2 )

 Syiah,... apa itu syiah? sebelum kita lanjutkan , mari sama-sama kita telusuri dulu secara singkat apa itu syiah dan siapa? 

kata "syiah" , secara bahasa diartikan sebagai pengikut, pendukung dan penyokong seseorang, kemudian istilah ini berkembang dan melekat kepada " pendukung, penyokong dan pengikut sayyidina Ali bin Abi Thalib dan keluarga ahli bait-nya, khususnya daripada keturuan Fatimah binti Rosulillah saw, yaitu Hasan dan Husein. 

ketika Hasan bin Ali legowo untuk mundur dan merelakan tampuk kepemimpinan khilafah islam diberikan kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan RA , para penyokong , pendukung, pengikutnya menolak tindakan tersebut, kemudian mereka mengalihkan dukungannya kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib RA yang kemudian dukungan ini diteruskan sampai  kepada keturunan Husein bin Ali. 

kota kufah merupakan tempat para pendukung terbesar syiah kala itu, bahkan mereka menjadikan kota kufah menjadi ibukota mereka ( syiah), yang kemudian kota tersebut menjadi markas penyebaran ideologi syiah terbesar kala itu. 

dulunya syiah  merupakan sekumpulan pengikut, pendukung yg sederhana, dan jumlahnya tidak terlalu besar, namun seiring berjalannya waktu, kelompok ini semakin besar, bahkan dituliskan dalam sejarah berbagai ras dan agama ( termasuk Yahudi, Nasrani dan sebagian penganut agama kuno seperti zoroaster di iran  ) turut serta dalam faksi syiah ini, bahkan mereka mencoba memasukkan warisan ajaran dan kebiasaan agama mereka kedalam islam, denga tujuan untuk merubah, mencoreng dan menghancurkan  pemerintahan islam kala itu. 

dan kelompok syiah juga terbagi kepada beberapa faksi, ada faksi syiah imaniyah, faksi syiah zaidiyah, dan faksi syiah ismailiyah, dll. dan diantara faksi ini ada jernih dalam berfikir-nya ( ideologinya) seperti syiah Zaidiyah, dan ada yang sangat melampaui batas, bukan hanya sangat mengagungkan Ali bin Abi Thalib dibandingkan seluruh sahabat Rasulullah saw, namun juga menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih berhak menerima wahyu kenabian , bahkan ada yang menuhankannya ( menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan ). 

dan diantaranya ada juga faksi syiah yang melampaui batas menyatakan bahwa Rosulullah saw, menunjuk Ali bin Abi Thalib menjadi penerus Khilafah setelah Rasululullah saw, dan mereka menguatkan pendapat mereka dengan beberapa dalil-dalil yang mereka karang dan tulis sendiri. 

bersambung... ... ... 

dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 39- 40.

Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 1 )

 Sayyidina Husein merupakan putra kedua daripada Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, dari Seorang istri bernama Fatimah Binti Rosulullah saw. Sayyidina Husein Lahir beda setahun dengan saudaranya Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA, pada tahun ke-3 setelah hijriah, diantara beberapa sumber sejarah mengatakan pada tahun ke-4 setelah hijrah Rasulullah saw ke kota Madinah, baik Hasan dan Husein keduanya dikenal sebagai Cucu Rasulullah saw yang sangat dicintainya, bahkan Rasulullah saw menyebutkan mereka berdua sebagai '' pemimpinnya para pemuda ahli surga'' , bahkan Abu Bakar as-shiddiq , Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan Rodhiyallohu 'anhum sangat menghormati keduanya, pada saat terpecahnya perang 'Jamal dan Shifin''  Hasan dan Husein turut serta menjadi bagian yang terlibat didalam perang bersama ayahnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib. 

Hasan bin Ali bin Abi Thalib sangat mirip dengan wajahnya Rasulullah saw, sedangkan Husein bin Ali bin Abi Thalib sangat mirip dengan Fisik/perawakannya Rasulullah saw. 

ketika tampuk kepemimpinan khilafah berada ditangan Mu'awiyah bin Abi Sufyan RA, Husein bin Ali bin Abi Thalib bersama Saudaranya Hasan bin Ali menyatakan tunduk dan patuh ( berbaiat) kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan, meski pada awal-awal Baiat Husein bin Ali amatlah sangat berat hati, namun karena saudaranya Hasan bin Ali bersikukuh untuk menyatakan baiat, maka Husein bin Ali pun legowo dan bersedia untuk ber-baiat. bahkan sepeninggal kakaknya ( Hasan bin Ali bin Abi Thalib) dituliskan dalam tinta sejarah, Husein bin Ali bin Abi Thalib ikut serta dalam peperangan yang dipimpin oleh Yazid bin Mu'awiyah putranya Mu'awiyah bin Abi Sufyan melaewan bizantium (kerajaan Romawi Timur) di masa pemerintahan Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan. 

pada saat Mu'awiyah bin Abi Sufyan ( Khalifah pertama daulah Umayyah) menunjuk/ menyatakan secara resmi Putranya Yazid bin Mu'awiyah sebagai penerus takhta ( putra makhkota) pemerintahan umayyah berikutnya,  maka Husein bin Ali bin Abi Thalib menolak untuk berbaiat kepada putra Mu'awiyah bin Abi Sufyan kala itu, namun Husein Bin Ali tetap setia kepada pemerintahan Mu'awiyah bin Abi Sufyan sampa ajal menjemput Mu'awiyah. 

setelah Mu'awiyah wafat, dan takhta dipimpin oleh putranya  Yazid Bin Mu'awiyah, Husein bin Ali tidak pernah menyatakan baiat kepada Yazid, karena beliau ( Husein bin Ali) berpendapat bahwa beliau lebih layak dan lebih pantas untuk menjadi Khalifah Umayyah selanjutnya. dan penyokong utama Husein bin Ali merupakan penduduk kota Kufah ( dahulunya merupakan salah satu kota besar di Irak ) disebabkan mayoritas penduduknya merupakan Syiah. 

bersambung... ... ... ... 

dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 38- 39.