Senin, 06 Januari 2025

Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 6 )

 ... ..  'Amru bin Said bin 'Ash mengingatkan Husein bin Ali agar senantiasa selalu berhati-hati selama perjalanan, terutam jika mereka menjumpai setiap orang yang datang dari Kufah,. dan selama perjalanan juga, banyak daripada pemuda-pemuda kabilah bergabung dengan mereka , setiap mereka melalui satu perkampungan atau Kabilah. 

kemudian, datanglah seorang utusan yang mengabarkan bahwa saudara sepupunya ( Muslim bin Aqil yang diutus oleh Husein bin Ali ke kota Kufah sebelumnya) sudah terbunuh. dan penduduk kufah yang sebelum sudah menyatakan sumpah setia /baiat terhadapnya  sama sekali tidak menolong saudaranya, dan berlepas tangan disebabkan takut akan keganasan/kekejaman Gubernur Kufah  Ubaidillah bin Ziyad, atau dikarnakan mereka penduduk kufah tergoda dengan harta/uang  yang telah diberikan oleh gubernur kufah kepada mereka, akhrnya mereka ( Syiah Kufah/Penduduk Kota Kufah)  berlepas tangan. 

hal-hal tersebut sempat membuat Husein bin Ali berfikir untuk balik ke kota Makkah, namun saudara-saudara Muslim bin Aqil ( utusan yang terbunuh) mengatakan " kami tidak akan balik sebelum kami membalas dendam" kemudian Husein bin Ali menjawab " tiada kebaikan dalam hidup kalian setelah ini ".

Husein bin Ali beserta rombongannya melanjutkan perjalanan mereka, kemudian kabar bahwa utusan kedua yang dia utus ke kota kufah untuk mengabarkan bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju kota kufah juga telah Terbunuh. Lantas Husein bin Ali memberitahu para pengikutnya, dan mejelaskan betapa pengecut dan hinanya para penduduk Kufah. 

Husein bin Ali memberikan dua pilihan kepada rombonganya, pertama; boleh pergi meninggalkannya dalam artian tidak ikut lagi ke kota Kufah, atau kedua; memilih untuk tetap ikut bersamanya. setelah hal tersebut disampaikan Husein bin Ali kepada para pengikutnya, maka banyak diantara mereka yang sebelumnya ikut bergabung ditengah jalan, meninggalkan Husein bin Ali, dan yg tersisa hanya mereka yang sedari awal ikut bersamanya sejak dari kota Makkah. 

*** ternyata Khalifah Umayyah , Yazid bin Mu'awiyah selalu mengawasi gerak gerik Husein bin Ali, sejak saat mereka bersama-sama pernah tinggal di kota madinah ( pada masa mudanya).  saat Yazid bin Mu'awiyah mengetahui kabar bahwa Husein bin Ali akan berangkat menuju kota Kufah, Yazid bin Mu'awiyah menulis surat kepada para Shahabah yang berada di kota Makkah untuk menahan Husein bin Ali agar tidak meninggalkan kota Makkah, diantara mereka yang disurati adalah Abdullah bin Abbas Ra. akan tetapi Husein bin Ali  bersikukuh untuk tetap pergi ke kota Kufah.

disaaat Husein bin Ali sudah mendekati Kota Iraq, maka Yazid bin Mu'awiyah mengirim surat kepada Gubernurnya, Ubaidillah bin Ziyad yang isinya, agar Ubaidillaah bin Ziyad meng-amankan setiap jalan yang akan dilalui oleh Husein bin Ali menuju kota Kufah, dan supaya menahan setiap orang dari penduduk kota Kufah yang dituduh membantu Husein bin Ali . 

***** bersambung... 

dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 43-44. 

Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 5 )

.... , setelah Husein bin Ali mendengar kabar daripada Muslim bin Aqil, bahwasanya penduduk Kufah sudah berbaiat kepadanya dan berjanji akan selalu membantu dan menyokongnya meski harus mengorbankan harta dan jiwaraga,  maka beliau-pun bertekad untuk berangkat ke kota Kufah, mendengar kabar tersebut , penduduk Makkah pun menyarankan agar Husein bin Ali tidak berangkat ke Kufah, dimana mereka mengingatkan Husein bin Ali terhadap peristiwa yg telah menimpa Ayahnya dan Saudaranya ( Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Ali) , diantara tokoh besar yang menasehati Husein bin Ali adalah; Abulllah bin Abbas Ra, Abdullah bin Umar Ra, Abu Sa'id al Khudry Ra, Jabir bin Abdullah Ra, Sa'id bin Musayyab ra, dan Miswar min Mukhrimah, dll.  semuannya mengigatkan Husein bin Ali agar berhati-hati dan tidak mudah percaya terhadap para penduduk Kufah ( Syiah Kufah).  meski demikian beliau ; Husein bin Ali bin Abi Thalib tetap bersikukuh untuk pergi menuju kota Kufah. 

barangkali ada dua Faktor yang membuat Husein bin Ali bersikukuh untuk meninggalkan kota Makkah menuju Kota Kufah,  yang pertama; beliau tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah di kota makkah apabilah ia terbunuh di Makkah, dikarnakan apabila hal ini terjadi maka nilai haram ( kesucian kota Makkah al Mukarromah) akan ternodai, dimana di Kota Haram yaitu Makkah dan Madinah sangat diharamkan pembunuhan ataupun pertumpahan darah mengingat kesakralan dan kesucian kota tersebut dimata umat muslim ,  yang kedua; beliau, Husein bin Ali bin Abi Thalib Ra, dikisahkan melihat atau berjumpa Rasulullah saw dalam mimpinya, dimana Rasulullah saw memberikan perintah kepadanya, dan Husein bin Ali siap untuk melaksanakan perintah tersebut, dan Husein bin Ali tidak akan membocorkan atau memberitahkan isi mimpinya kepada seorang-pun sampai ajal menjemputnya. 

**** Husein bin Ali pergi meninggalkan kota Makkah menuju Kufah pada tanggal 8 dzulhijjah tahun 60 hijriah, bersama dengan keluarganya, dan pengikutnya kurang lebih 70 orang, meski Ibnu Abbas sebelumnya sudah menasehatinya agar tidak membawa istri dan anak-anaknya. 

kemudian, Husein bin Ali terlebih dahulu mengirinkan utusan kepada penduduk kufah, mengabarkan bahwanya mereka ( Husein bin Ali beserta Rombongannya) sedang Menuju Kota Kufah. 

dalam perjalanan, tidak jauh dari kota Makkah, Husein bin Ali berjumpa dengan Farozdag ( salah satu penyair terkemuka dimasa daulah Umayyah ), yang baru balik dari kota Iraq, kemudian Husein bin Ali bertanya bagaimana sikap penduduknya , kemudian Farozdag menjawab "  hati mereka bersamamu namun pedang mereka bersama Bani Umayyah"  . meski demikian Husein bin Ali beserta rombongannya tetap melanjutkan perjalanan mereka. 

ketika Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib ( anak dari pamannya  Husein bin Ali ) mengetahui keberangkatan Husein bin Ali beserta rombongannya menuju Kufah, maka dia ( Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib) datang dari Madinah untuk mengejarnya, dan meminta kepada 'Amru bin Sai'd bin 'Ash gubernur Makkah pada pemerintahan Bani Umayyah saat itu, untuk menuliskan surat pernyataan " keamanan dan keselamatan"  kepada Husein bin Ali dan rombongannya apabila mereka balik/ kembali ke kota Makkah dan membatalkan kepergian mereka ke kota Kufah.  Namun Husein bin Ali Menolak hal tersebut. ..

*****  bersambung... 
dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 42.

Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 4 )

 ..... diantara riwayat sejarah versi Abi Mikhnaf , menuliskan bahwa hubungan Hasan bin Ali dan Husein bin Ali dengan Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan Yazid bin Mu'awiyah tidak harmonis dan tidak sebaik yang dituliskan oleh para sejarawan lainnya, bahkan Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam riwayat sejarah versi Abi Mihknaf menuduh '' Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan putranya Yazid Bin Mu'awiyah mengikuti jalan syaitan dan tidak patuh kepada Allah swt, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal "  tentu ini adalah tuduhan yang sangat serius daripada Husein bin Ali, dimana tidak ada satupun sahabat bahkan tabi'in yg masih hidup kala itu melayangkan tuduhan seperti itu kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan ataupun kepada Yazid bin Mu'awiyah, dan tentu tuduhan tersebut hanya muncul dan dapat ditemukan daripada penulis sejarah dari kalangan syiah. 


****  setelah Muslim bin Aqil ( saudara sepupu Husein bin Ali yang diutus) tiba di kufah, para penduduk kufah pun dari kalangan syiah  datang berbondong-bondong menemui Muslim Bin Aqil, menyatakan baiat/sumpah setia  kepada Husein bin Ali , mereka berjanji untuk selalu mendukung, menolong Husein bin Ali meskipun harus mengorbankan Harta dan jiwanya. 

sekitar 18 ribu orang daripada penduduk kufah yang menyatakan sumpah setia/baiat kepada Husein bin Ali saat itu, setelah Muslim bin Aqil memastikan dan menyaksikan mereka menyatakan baiat, maka Muslim bin Aqil pun menulis surat kepada Husein bin Ali yang isinya; bahwa penduduk Kufah sudah siap untuk menyambut kedatangan Husein bin Ali ke Kufah. 

tentu tindakan yang dilakukan oleh Muslim bin Aqil beserta 18 ribu syiah Kufah merupakan tindakan yang sangat berbahaya dalam sebuah pemerintahan umayyah dimana Yazid bin Mu'awiyah adalah khalifah yang sah saat itu, maka gubernur Kufah yang ditunjuk oleh khalifah ( yaitu an-Nu'man bin Basyir) dicopot dari jabatannya, karena disinyalir membiarkan dan tidak melakukan tindakan pencegahan sebelum terjadinya peristiwa baiat 18 ribu syiah kufah kepada husein bin Ali.  kemudian posisi gubernur kufah diberikan dan dipercayakan kepada Ubaidillah bin Ziyad , yang saat itu beliau adalah gubernur di Basroh. setelah penunjukan Ubaidillah bin Ziyad sebagai Gubernur Kufah, maka perintah atau intruksi yang pertama kali yang ia dapatkan daripada Yazid bin Mu'awiyah ( Khalifah daulah Bani Umayyah ke-2) kala itu adalah; menangkap dan membunuh Muslim bin Aqil .

setelah Ubaidillah bin Ziyad tiba di kufah, maka di hari pertamanya dia memerintah kufah sebagai Gubernur , maka Ubaidillah pun mengancam dan mengintruksikan agar para penduduk kufah menjauh dari Muslim bin Aqil dan meng-anulir sumpah setia/baiat nya kepada Husein bin Ali.  

singkat cerita, Muslim bin Aqil tertankap dan dibunuh , kemudian kepala Muslim bin Aqil dikirimkan kepada Yazid bin Mu'awiyah sebagai bukti bahwa Muslim bin Aqil ( pemberontak/pembelot) sudah disingkirkan. 

**********

bersambung....... 

dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 42.