Senin, 27 Januari 2025



14 KHALIFAH DINASTI UMAYYAH

Pemerintahan UMAYYAH ( Daulah Umawiyah)  berdiri Kurang Lebih 91 Tahun , dari tahun 41 Hijriah - 132 Hijriah atau 661 Masehi- 750 Masehi, Daulah Umawiyah mengambil Damaskus ( Syiria) sebagai Ibukota Pemerintahan mereka,  dan selama Pemerintahan tersebut , tercatat dalam sejarah sebanyak 14 Khalifah telah memimpian pemerintahan daulah umawiyah. Mereka Adalah

1. Mu'awiyah bin Abi Sufyan ( 41 hijriah- 60 hijriah) merupakan Khalifah pertama, yang memimpin ke-khalifahan kurang lebih 19 tahun. 

2. Yazid bin Mu'awiyah ( 60 hijriah- 64 hijriah), memimpin daulah umawiyah kurang lebih 4 tahun, diantara para sejarawan mencatat 3 tahun 9 bulan. 

3. Mu'awiyah bin Yazid ( 64 hijriah),  masa pemerintahannya sangatlah sebentar dengan kondisi internal politik daulah umawiyah saat itu dan ditambah dengan faktor ketokohan beberapa putra sahabat Rasululllah saw yang lain seperti Abdullah bin Zubair bin 'Awwam di Hijaj ( Makkah Madinah). para peneliti sejarah berbeda pendapat terkait masa/waktu pemerintahannya, ada yang mengatakan 20 hari, ada yang menuliskan 40 hari, dan ada juga yang mengatakan 2 bulan , bahkan  3 bulan. dan beliau merupakan Khalifah terakhir dari keturuan pendirinya yang pertama Mu'awiyah bin Abi Sufyan, atau dengan istilah dari keturuan terakhir dari keluarga Mu'wiyah. 

4. Marwan bin Hakam ( 64 hijriah- 65 hijriah), khalifah pertama dari keluarga Marwaniyah , dan seterusnya Khalifah/pemimpin daulah umawiyah berasal dari keturunan Marwan bin Hakam, masa pemerintahan Marwan bin hakam hanya 9 bulan 10 hari. 

5. Abdul Mulk bin Marwan ( 65 hijirah- 86 hijriah), memimpin daulah umawiyah selama 21 tahun 1,5 bulan. pada masa beliau seluruh proses administrasi pemerintahan menggunakan bahasa arab, dimana sebelumnya surat menyurat atau jenis administrasi apapun mengunakan bahasa sesuai dengan daerahnya masing-masing, di iraq bahasa persia, di mesir bahasa qibti dan di syam ( damaskus ,suriah) berbahasa yunani.  maka pada masa pemerintahannya semua daerah harus menggunakan bahasa arab dalam proses surat menyurat dan administrasi lainnya. dan pada masa beliu juga pertama kali dicetak koin/mata uang dari emas atau perak dilengkapi dengan ornamen -ornamen yang menunjukkan identitas pemerintahan islam, seperti mengukir kalimat tauhid mengikuti lingkaran koin mata uang tersebut. 

6. al- Walid bin Abdul Mulk ( 86 hijriah - 96 hijriah) disebut - sebut sebagai bapak pembangunan di masa pemerintahan bani umayyah, seperti memperluas masjidil haram, masjid nabawi, masjid aqso, masjid umawi di damaskus  dll.  masa pemerintahannya kurang lebih 10 tahun. 

7. Sulaiman bin Abdul Mulk ( 96 hijirah- 99 hijriah).  masa pemerintahannya 2 tahun 9 bulan 20 hari. 

8. Umar bin Abdul Aziz ( 99 hijriah- 101 hijriah). dicatat dalam sejarah sebagai khalifah terbaik pada pemerintahan umawiyah, masa pemerintahnya berlangsung 2 tahun, 5 bulan, 4 hari, wafat pada umur 39 tahun, 5 bulan. beliau lahir pada tahun 61 hijriah di kota madinah, tahun dimana Husein bin Ali terbunuh di karbala.

9. Yazid bin Abdul Mulk ( 101 H- 105 H)  memimpin Khalifahan dinasti umayyah kurang lebih selama 4 tahun 1 bulan. 

10. Hisyam bin Abdul Mulk ( 105 H- 125 H).

11. al Walid bin Yazid bin Abdul Mulk ( 125 H- 126 H). 

12. Yazid bin Walid bin Abdul Mulk ( 126 H). 

13. Ibrahim bin Walid bin Abdul Mulk ( 127 H).

14. Marwan bin Muhammad bin Marwan ( 127 H -132 H ). 



Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 8)

 ...

kemudian, Ubadillah bin Ziyad, gubernur kufah saat itu memberitahu Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqosh , jikalau Husein bin Ali menolak untuk menyerah, maka bunuh dia dan pengikutnya,  dan benar saja Husein bin Ali tidak menyerah, atau tunduk kepada perintah gubernur kufah , Ubaidillah bin Ziyad... maka tidak ada pilihan kecuali berperang...

dan ketika al-Hur bin Yazid at-Tamimi mengetahui bahwa Ubadillah bin Ziyad yg saat itu Gubernur kufah menolak 3 tawaran/permintaan dari Husein bin Ali, maka dia pun bergabung dengan pasukan Husein bin Ali.... 

pada tanggal 10 muharram ( menurut riwayat sejarah yang paling masyhur), tahun 61 Hijriah, perang/pertempuran antara pasukan Husein bin Ali dan pasukan umayyah yang dipimpin oleh Umar bin Saad bin Abi Waqqosh, dimana jumlah pasukan Umar bin Sa'ad kala itu berjumlah 4000 pasukan, sedangkan jumlah Pasukan Husein bin Ali tidak lebih dari 100 pasukan . 

dalam pertempuran tersebut, pasukan Husein bin Ali dengan sikap pantang menyerahnya bertempur habis-habisan, Husein bin Ali sebagai pemimpin pasukan juga menunjukkan sikap dan keberaniann yang sangat luar bisa saat bertempur/berperang. 

singkat cerita, perang berakhir dengan terbunuhnya Husein bin Ali dan pengikutnya yg berjumlah 72 orang. 17 orang diantara mereka merupakan dari Ahli Bait ( keturunan Rasullah saw), dan hanya 5 orang dari Ahli bait yang selamat kala itu, yaitu putra Husein bin Ali yang bernama Ali Zainal 'Abidin, disebabkan saat itu dia sedang sakit dan tidak ikut bertempur, kemudian yg kedua putra bungsu Husein bin Ali , kemudian 2 putri dari Husein bin Ali yang bernama Fatimah dan Sakinah, dan yang terakhir Saudari Perempuan daripada Husein bin ALi yang bernama Zainab Binti Ali bin Abi Thalib. 

peristiwa terbunuhnya Husein bin Ali merupakan salah satu peristiwa yang sangat menyedihkan diantara kaum muslimin saat itu, dimana Cucu Rasulullah saw terbunuh dimasa pemerintahan Bani Umayyah. yang kala itu Khalifahnya bernama Yazid bin Mu'awiyah Ra.

dan sejarah mencatat bahwa, Ubaidillah bin Ziyad Gubernur Bani Umayyah di Kufah saat itu, yang memberikan intruksi penangkapan dan pembunuhan Husein bin Ali , Tewas atau tebunuh pada masa pemberontakan Syiah yang dipimpin oleh Muchtar as-Tsaqofiy di Kufah.  Ubaidilah bin Ziyad terbunuh dengan kondisi Tubuh terbelah dua saat pertempuran di tangan seorang panglima perang Syiah yang bernama Ibrahim bin Asytur an-Nakh'iy.  kemudina Syammir bin Dzil Jusyan terbunuh setelah itu, Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqosh juga terbunuh dimasa pemberontakan Syiah kufah yang dipimpin oleh Muchtar as-Tsaqofiy, termasuk Khuli bin Yazid ( orang yg memenggal kepala Husein bin Ali) terbunuh dimasa pemberontakan syiah kala itu . 

dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 45-71. 

Tamat. 

Senin, 06 Januari 2025

Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 7 )

 .... dan disaat Husein bin Ali beserta rombonganya sudah mendekati kota Kufah, Ubaidillah bin Ziyad mengutus 1000 pasukan berkuda dipimpin oleh al-hurr bin yazid at-tamimi, dengan instruksi menagkap Husein bin Ali dan membawanya kehadapan Ubaidillah bin Ziyad, disaat al-hurr bin yazid at-tamimy dan pasukannya berjumpa dengan Husein bin Ali,  maka sikap hormat dan sopan  senantiasa ditunjukkan oleh al-hurr bin yazid at-tamimy kepada Husein bin Ali, dan mereka menolak untuk berperang dengan Husein bin Ali, bahkan sebaliknya al-Hurr bin Yazid at-Tamimy menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya kepada Husein bin Ali. 

setelah mendengar apa yang disampaikan oleh al-Hurr bin Yazid at-Tamimy, Husein bin Ali pun menahan pasukan/pengikutnya, kemudian al-Hurr bin Yazid at-Tamimy meminta Husein bin Ali dan rombongannya agar mengambil jalan lain yang bukan jalan menuju Kufah. kemudian Husein bin Ali menerima saran dari al-Hurr bin Yazid at-Tamimy, dan mereka ( Husein bin Ali dan para pengikutnya) menuju Karbala'.

dan dikisahkan dalam sejarah, bahkan al-Hurr bin Yazid at-Tamimy beserta 1000 orang daripada pasukan berkudanya , sholat berjamaah dan di imami oleh Husein bin Ali, setelah Sholat mereka pun mendengar dan menyimak tausyiah daripada Husein bin Ali. 

tidak berapa lama setelah itu, muncullah pasukan Bani Umayyah yang lain, dengan jumlah 4000 ribu pasukan, dipimpin oleh Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqosh. dimana gubernur kufah  '' Ubaidillah bin Ziyad"  menugaskannya untuk memerangi Husein bin Ali dan para pengikutnya, dengan catatan, agar Husein bin Ali menyatakan baiat/sumpah setia kepada Yazid bin Mu'awiyah , namun Husein bin Ali menolaknya. dan dilokasi yang bernama ar-Royy , Husein bin Ali dan rombongannya diblokade, bahkan Air pun tidak diperbolehkan bagi mereka agar mereka menyerah, dan ketika Husein bin Ali menyadari bahwa beliau dan pengikutnya tidak mampu melawan pasukan Umar bin sa'ad bin Abi Waqqosh, Husein bin Ali menawarkan perundingan, dengan mengajukan 3 poin persyaratan yang salah satu dari yg 3 poin tersebut dapat disetujui , yang pertama: Memberi Ruang Bagi Mereka agar mereka kembali ke kota Makkah, yang kedua memberikan Husein bin Ali ruang untuk bertemu dengan Yazid bin Mu'awiyah  dengan tujuan berunding, yang ketiga: mengizinkannya pergi ke wilayah perbatasan untuk berperang / berjihad melawan musuh . 

Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqosh-pun senang dengan hal tersebut, kemudian Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqosh memberitahu Ubaidillah bin Ziyad Gubernur Kufah, Ubaidillah bin Ziyad pun senang dan ridho dengan hal tersebut.... akan tetapi sikap Ubaidillah bin Ziyad  tiba-tiba berubah setelah berdiskusi dengan pemimpin pasukan rahasia bani umayyah di kufah ( pasukan mata-mata) yg bernama Syammir bin dzil jusyan . dimana dari hasil diskusi tersebut Syammir bin dzil jusyan meminta agar Ubaidillah bin Ziyad mesti berhati-hati apabila ia menerima salah datu dari 3 poin persyaraatan  tersebut, dan agar supaya Ubaidillah bin Ziyad tidak menerima  3 poin persyaratan tersebut kecuali Husein bin Ali menyatakan sumpah setia/baiat kepada Yazid bin Mu'awiyah khalifah ke-2 dinasti Umayyah. 

bersambung...... 

dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 44-45. 

Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 6 )

 ... ..  'Amru bin Said bin 'Ash mengingatkan Husein bin Ali agar senantiasa selalu berhati-hati selama perjalanan, terutam jika mereka menjumpai setiap orang yang datang dari Kufah,. dan selama perjalanan juga, banyak daripada pemuda-pemuda kabilah bergabung dengan mereka , setiap mereka melalui satu perkampungan atau Kabilah. 

kemudian, datanglah seorang utusan yang mengabarkan bahwa saudara sepupunya ( Muslim bin Aqil yang diutus oleh Husein bin Ali ke kota Kufah sebelumnya) sudah terbunuh. dan penduduk kufah yang sebelum sudah menyatakan sumpah setia /baiat terhadapnya  sama sekali tidak menolong saudaranya, dan berlepas tangan disebabkan takut akan keganasan/kekejaman Gubernur Kufah  Ubaidillah bin Ziyad, atau dikarnakan mereka penduduk kufah tergoda dengan harta/uang  yang telah diberikan oleh gubernur kufah kepada mereka, akhrnya mereka ( Syiah Kufah/Penduduk Kota Kufah)  berlepas tangan. 

hal-hal tersebut sempat membuat Husein bin Ali berfikir untuk balik ke kota Makkah, namun saudara-saudara Muslim bin Aqil ( utusan yang terbunuh) mengatakan " kami tidak akan balik sebelum kami membalas dendam" kemudian Husein bin Ali menjawab " tiada kebaikan dalam hidup kalian setelah ini ".

Husein bin Ali beserta rombongannya melanjutkan perjalanan mereka, kemudian kabar bahwa utusan kedua yang dia utus ke kota kufah untuk mengabarkan bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju kota kufah juga telah Terbunuh. Lantas Husein bin Ali memberitahu para pengikutnya, dan mejelaskan betapa pengecut dan hinanya para penduduk Kufah. 

Husein bin Ali memberikan dua pilihan kepada rombonganya, pertama; boleh pergi meninggalkannya dalam artian tidak ikut lagi ke kota Kufah, atau kedua; memilih untuk tetap ikut bersamanya. setelah hal tersebut disampaikan Husein bin Ali kepada para pengikutnya, maka banyak diantara mereka yang sebelumnya ikut bergabung ditengah jalan, meninggalkan Husein bin Ali, dan yg tersisa hanya mereka yang sedari awal ikut bersamanya sejak dari kota Makkah. 

*** ternyata Khalifah Umayyah , Yazid bin Mu'awiyah selalu mengawasi gerak gerik Husein bin Ali, sejak saat mereka bersama-sama pernah tinggal di kota madinah ( pada masa mudanya).  saat Yazid bin Mu'awiyah mengetahui kabar bahwa Husein bin Ali akan berangkat menuju kota Kufah, Yazid bin Mu'awiyah menulis surat kepada para Shahabah yang berada di kota Makkah untuk menahan Husein bin Ali agar tidak meninggalkan kota Makkah, diantara mereka yang disurati adalah Abdullah bin Abbas Ra. akan tetapi Husein bin Ali  bersikukuh untuk tetap pergi ke kota Kufah.

disaaat Husein bin Ali sudah mendekati Kota Iraq, maka Yazid bin Mu'awiyah mengirim surat kepada Gubernurnya, Ubaidillah bin Ziyad yang isinya, agar Ubaidillaah bin Ziyad meng-amankan setiap jalan yang akan dilalui oleh Husein bin Ali menuju kota Kufah, dan supaya menahan setiap orang dari penduduk kota Kufah yang dituduh membantu Husein bin Ali . 

***** bersambung... 

dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 43-44. 

Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 5 )

.... , setelah Husein bin Ali mendengar kabar daripada Muslim bin Aqil, bahwasanya penduduk Kufah sudah berbaiat kepadanya dan berjanji akan selalu membantu dan menyokongnya meski harus mengorbankan harta dan jiwaraga,  maka beliau-pun bertekad untuk berangkat ke kota Kufah, mendengar kabar tersebut , penduduk Makkah pun menyarankan agar Husein bin Ali tidak berangkat ke Kufah, dimana mereka mengingatkan Husein bin Ali terhadap peristiwa yg telah menimpa Ayahnya dan Saudaranya ( Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Ali) , diantara tokoh besar yang menasehati Husein bin Ali adalah; Abulllah bin Abbas Ra, Abdullah bin Umar Ra, Abu Sa'id al Khudry Ra, Jabir bin Abdullah Ra, Sa'id bin Musayyab ra, dan Miswar min Mukhrimah, dll.  semuannya mengigatkan Husein bin Ali agar berhati-hati dan tidak mudah percaya terhadap para penduduk Kufah ( Syiah Kufah).  meski demikian beliau ; Husein bin Ali bin Abi Thalib tetap bersikukuh untuk pergi menuju kota Kufah. 

barangkali ada dua Faktor yang membuat Husein bin Ali bersikukuh untuk meninggalkan kota Makkah menuju Kota Kufah,  yang pertama; beliau tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah di kota makkah apabilah ia terbunuh di Makkah, dikarnakan apabila hal ini terjadi maka nilai haram ( kesucian kota Makkah al Mukarromah) akan ternodai, dimana di Kota Haram yaitu Makkah dan Madinah sangat diharamkan pembunuhan ataupun pertumpahan darah mengingat kesakralan dan kesucian kota tersebut dimata umat muslim ,  yang kedua; beliau, Husein bin Ali bin Abi Thalib Ra, dikisahkan melihat atau berjumpa Rasulullah saw dalam mimpinya, dimana Rasulullah saw memberikan perintah kepadanya, dan Husein bin Ali siap untuk melaksanakan perintah tersebut, dan Husein bin Ali tidak akan membocorkan atau memberitahkan isi mimpinya kepada seorang-pun sampai ajal menjemputnya. 

**** Husein bin Ali pergi meninggalkan kota Makkah menuju Kufah pada tanggal 8 dzulhijjah tahun 60 hijriah, bersama dengan keluarganya, dan pengikutnya kurang lebih 70 orang, meski Ibnu Abbas sebelumnya sudah menasehatinya agar tidak membawa istri dan anak-anaknya. 

kemudian, Husein bin Ali terlebih dahulu mengirinkan utusan kepada penduduk kufah, mengabarkan bahwanya mereka ( Husein bin Ali beserta Rombongannya) sedang Menuju Kota Kufah. 

dalam perjalanan, tidak jauh dari kota Makkah, Husein bin Ali berjumpa dengan Farozdag ( salah satu penyair terkemuka dimasa daulah Umayyah ), yang baru balik dari kota Iraq, kemudian Husein bin Ali bertanya bagaimana sikap penduduknya , kemudian Farozdag menjawab "  hati mereka bersamamu namun pedang mereka bersama Bani Umayyah"  . meski demikian Husein bin Ali beserta rombongannya tetap melanjutkan perjalanan mereka. 

ketika Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib ( anak dari pamannya  Husein bin Ali ) mengetahui keberangkatan Husein bin Ali beserta rombongannya menuju Kufah, maka dia ( Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib) datang dari Madinah untuk mengejarnya, dan meminta kepada 'Amru bin Sai'd bin 'Ash gubernur Makkah pada pemerintahan Bani Umayyah saat itu, untuk menuliskan surat pernyataan " keamanan dan keselamatan"  kepada Husein bin Ali dan rombongannya apabila mereka balik/ kembali ke kota Makkah dan membatalkan kepergian mereka ke kota Kufah.  Namun Husein bin Ali Menolak hal tersebut. ..

*****  bersambung... 
dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 42.

Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 4 )

 ..... diantara riwayat sejarah versi Abi Mikhnaf , menuliskan bahwa hubungan Hasan bin Ali dan Husein bin Ali dengan Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan Yazid bin Mu'awiyah tidak harmonis dan tidak sebaik yang dituliskan oleh para sejarawan lainnya, bahkan Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam riwayat sejarah versi Abi Mihknaf menuduh '' Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan putranya Yazid Bin Mu'awiyah mengikuti jalan syaitan dan tidak patuh kepada Allah swt, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal "  tentu ini adalah tuduhan yang sangat serius daripada Husein bin Ali, dimana tidak ada satupun sahabat bahkan tabi'in yg masih hidup kala itu melayangkan tuduhan seperti itu kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan ataupun kepada Yazid bin Mu'awiyah, dan tentu tuduhan tersebut hanya muncul dan dapat ditemukan daripada penulis sejarah dari kalangan syiah. 


****  setelah Muslim bin Aqil ( saudara sepupu Husein bin Ali yang diutus) tiba di kufah, para penduduk kufah pun dari kalangan syiah  datang berbondong-bondong menemui Muslim Bin Aqil, menyatakan baiat/sumpah setia  kepada Husein bin Ali , mereka berjanji untuk selalu mendukung, menolong Husein bin Ali meskipun harus mengorbankan Harta dan jiwanya. 

sekitar 18 ribu orang daripada penduduk kufah yang menyatakan sumpah setia/baiat kepada Husein bin Ali saat itu, setelah Muslim bin Aqil memastikan dan menyaksikan mereka menyatakan baiat, maka Muslim bin Aqil pun menulis surat kepada Husein bin Ali yang isinya; bahwa penduduk Kufah sudah siap untuk menyambut kedatangan Husein bin Ali ke Kufah. 

tentu tindakan yang dilakukan oleh Muslim bin Aqil beserta 18 ribu syiah Kufah merupakan tindakan yang sangat berbahaya dalam sebuah pemerintahan umayyah dimana Yazid bin Mu'awiyah adalah khalifah yang sah saat itu, maka gubernur Kufah yang ditunjuk oleh khalifah ( yaitu an-Nu'man bin Basyir) dicopot dari jabatannya, karena disinyalir membiarkan dan tidak melakukan tindakan pencegahan sebelum terjadinya peristiwa baiat 18 ribu syiah kufah kepada husein bin Ali.  kemudian posisi gubernur kufah diberikan dan dipercayakan kepada Ubaidillah bin Ziyad , yang saat itu beliau adalah gubernur di Basroh. setelah penunjukan Ubaidillah bin Ziyad sebagai Gubernur Kufah, maka perintah atau intruksi yang pertama kali yang ia dapatkan daripada Yazid bin Mu'awiyah ( Khalifah daulah Bani Umayyah ke-2) kala itu adalah; menangkap dan membunuh Muslim bin Aqil .

setelah Ubaidillah bin Ziyad tiba di kufah, maka di hari pertamanya dia memerintah kufah sebagai Gubernur , maka Ubaidillah pun mengancam dan mengintruksikan agar para penduduk kufah menjauh dari Muslim bin Aqil dan meng-anulir sumpah setia/baiat nya kepada Husein bin Ali.  

singkat cerita, Muslim bin Aqil tertankap dan dibunuh , kemudian kepala Muslim bin Aqil dikirimkan kepada Yazid bin Mu'awiyah sebagai bukti bahwa Muslim bin Aqil ( pemberontak/pembelot) sudah disingkirkan. 

**********

bersambung....... 

dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 42.


Minggu, 05 Januari 2025

Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 3 )

 Husein bin Ali bin Abi Thalib menolak untuk berbaiat kepada putra Makhkota , bahkan Mu'awiyah bin Abi Sufyan kala itu seorang Khalifah pun tidak berhasil untuk membujuk Husein bin Ali untuk berbaiat kepada putranya Yazid bin Mu'awiyah. ketika Mu'awiyah mengetahui bahwa Husein bin Ali bakal keluar/tidak ingin bergabung dengan pemerintahan umayyah dibawah pimpinan putranya, maka menjelang ajalnya , " Mu'awiyah berpesan ( berwasiat kepada Putranya Yazid bin Mu'wiyah) untuk memperhatikan Husein bin Ali, putra dari seorang ibu bernama Fatimah binti Rosulillah saw, karena Husein bin Ali merupakan orang yang paling dicintai masyarakat hijaz, dan khususnya madinah, berlemah lembutlah kepadanya, kalaulah diantara kalian berdua terjadi sesuatu / pertikaian, maka cukuplah penduduk Kufah yang pernah membunuh Ayahnya dan mengkhianati saudaranya ( Hasan bin Ali), hindarilah semampu mungkin pertikaian diantara kalian berdua". 

setelah Mu'awiyah wafat, maka Yazid bin Mu'awiyah  mengirimkan surat kepada gubernur Madinah untuk memintanya menemui Husein bin Ali agar legowo dan mau berbaiat kepada yazid bin muawiyah, serta meminta gubernur Kota Madinah memperlakukan Husein bin Ali dan keluarganya dengan perlakuan yang sangat baik. 

setelah penduduk kufah mengetahui bahwa Mu'awiyah bin Abi Sufyan wafat, mereka pun mengirimkan surat kepada Husein bin Ali, yang isi suratnya menyatakan bahwa mereka penduduk kufah tidak berbaiat, tunduk kepada pemerintahan umayyah dibawah kepemimpinan Yazid bin Mu'awiyah, dan mereka menunggu kedatangan Husein bin Ali bin Abi Thalib ke Kufah untuk berbaiat kepada Husein bin Ali, kemudian Husein bin Ali mengutus saudara sepupunya Muslim bin Aqil untuk pergi ke Kufah , menyelidiki dan memastikan apakah isi surat ini benar, dan apakah penduduk kufah benar benar ingin berbaiat kepada dia?  

sebelum kita melanjutkan kisah ini, perlu diketahui bahwa mayoritas kisah sejarah ( sumber dan rujukan)  yang beredar dan berbicara tentang keluarnya /tidak tunduknya Husein bin Ali kepada pemerintahan Umayyah dibawah tampuk kepimpinan Yazid bin Mu'awiyah, diambil daripada sejarawan /kisah yang disampaikan oleh Abi Mikhnaf , dan Abi Mikhnaf terkenal dengan sikap fanatiknya kepada ideologi Syiah, yang dengan ini kita mesti berhati-hati dalam menukil kisah sejarah yang bersumber darinya, karena sikap fanatismenya tersebut. 

bersambung .... ... ..... 

dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 40- 41.

Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 2 )

 Syiah,... apa itu syiah? sebelum kita lanjutkan , mari sama-sama kita telusuri dulu secara singkat apa itu syiah dan siapa? 

kata "syiah" , secara bahasa diartikan sebagai pengikut, pendukung dan penyokong seseorang, kemudian istilah ini berkembang dan melekat kepada " pendukung, penyokong dan pengikut sayyidina Ali bin Abi Thalib dan keluarga ahli bait-nya, khususnya daripada keturuan Fatimah binti Rosulillah saw, yaitu Hasan dan Husein. 

ketika Hasan bin Ali legowo untuk mundur dan merelakan tampuk kepemimpinan khilafah islam diberikan kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan RA , para penyokong , pendukung, pengikutnya menolak tindakan tersebut, kemudian mereka mengalihkan dukungannya kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib RA yang kemudian dukungan ini diteruskan sampai  kepada keturunan Husein bin Ali. 

kota kufah merupakan tempat para pendukung terbesar syiah kala itu, bahkan mereka menjadikan kota kufah menjadi ibukota mereka ( syiah), yang kemudian kota tersebut menjadi markas penyebaran ideologi syiah terbesar kala itu. 

dulunya syiah  merupakan sekumpulan pengikut, pendukung yg sederhana, dan jumlahnya tidak terlalu besar, namun seiring berjalannya waktu, kelompok ini semakin besar, bahkan dituliskan dalam sejarah berbagai ras dan agama ( termasuk Yahudi, Nasrani dan sebagian penganut agama kuno seperti zoroaster di iran  ) turut serta dalam faksi syiah ini, bahkan mereka mencoba memasukkan warisan ajaran dan kebiasaan agama mereka kedalam islam, denga tujuan untuk merubah, mencoreng dan menghancurkan  pemerintahan islam kala itu. 

dan kelompok syiah juga terbagi kepada beberapa faksi, ada faksi syiah imaniyah, faksi syiah zaidiyah, dan faksi syiah ismailiyah, dll. dan diantara faksi ini ada jernih dalam berfikir-nya ( ideologinya) seperti syiah Zaidiyah, dan ada yang sangat melampaui batas, bukan hanya sangat mengagungkan Ali bin Abi Thalib dibandingkan seluruh sahabat Rasulullah saw, namun juga menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih berhak menerima wahyu kenabian , bahkan ada yang menuhankannya ( menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan ). 

dan diantaranya ada juga faksi syiah yang melampaui batas menyatakan bahwa Rosulullah saw, menunjuk Ali bin Abi Thalib menjadi penerus Khilafah setelah Rasululullah saw, dan mereka menguatkan pendapat mereka dengan beberapa dalil-dalil yang mereka karang dan tulis sendiri. 

bersambung... ... ... 

dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 39- 40.

Husein Bin Ali bin Abi Thalib terburnuh di Karbala ( 1 )

 Sayyidina Husein merupakan putra kedua daripada Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, dari Seorang istri bernama Fatimah Binti Rosulullah saw. Sayyidina Husein Lahir beda setahun dengan saudaranya Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA, pada tahun ke-3 setelah hijriah, diantara beberapa sumber sejarah mengatakan pada tahun ke-4 setelah hijrah Rasulullah saw ke kota Madinah, baik Hasan dan Husein keduanya dikenal sebagai Cucu Rasulullah saw yang sangat dicintainya, bahkan Rasulullah saw menyebutkan mereka berdua sebagai '' pemimpinnya para pemuda ahli surga'' , bahkan Abu Bakar as-shiddiq , Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan Rodhiyallohu 'anhum sangat menghormati keduanya, pada saat terpecahnya perang 'Jamal dan Shifin''  Hasan dan Husein turut serta menjadi bagian yang terlibat didalam perang bersama ayahnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib. 

Hasan bin Ali bin Abi Thalib sangat mirip dengan wajahnya Rasulullah saw, sedangkan Husein bin Ali bin Abi Thalib sangat mirip dengan Fisik/perawakannya Rasulullah saw. 

ketika tampuk kepemimpinan khilafah berada ditangan Mu'awiyah bin Abi Sufyan RA, Husein bin Ali bin Abi Thalib bersama Saudaranya Hasan bin Ali menyatakan tunduk dan patuh ( berbaiat) kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan, meski pada awal-awal Baiat Husein bin Ali amatlah sangat berat hati, namun karena saudaranya Hasan bin Ali bersikukuh untuk menyatakan baiat, maka Husein bin Ali pun legowo dan bersedia untuk ber-baiat. bahkan sepeninggal kakaknya ( Hasan bin Ali bin Abi Thalib) dituliskan dalam tinta sejarah, Husein bin Ali bin Abi Thalib ikut serta dalam peperangan yang dipimpin oleh Yazid bin Mu'awiyah putranya Mu'awiyah bin Abi Sufyan melaewan bizantium (kerajaan Romawi Timur) di masa pemerintahan Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan. 

pada saat Mu'awiyah bin Abi Sufyan ( Khalifah pertama daulah Umayyah) menunjuk/ menyatakan secara resmi Putranya Yazid bin Mu'awiyah sebagai penerus takhta ( putra makhkota) pemerintahan umayyah berikutnya,  maka Husein bin Ali bin Abi Thalib menolak untuk berbaiat kepada putra Mu'awiyah bin Abi Sufyan kala itu, namun Husein Bin Ali tetap setia kepada pemerintahan Mu'awiyah bin Abi Sufyan sampa ajal menjemput Mu'awiyah. 

setelah Mu'awiyah wafat, dan takhta dipimpin oleh putranya  Yazid Bin Mu'awiyah, Husein bin Ali tidak pernah menyatakan baiat kepada Yazid, karena beliau ( Husein bin Ali) berpendapat bahwa beliau lebih layak dan lebih pantas untuk menjadi Khalifah Umayyah selanjutnya. dan penyokong utama Husein bin Ali merupakan penduduk kota Kufah ( dahulunya merupakan salah satu kota besar di Irak ) disebabkan mayoritas penduduknya merupakan Syiah. 

bersambung... ... ... ... 

dari buku sejarah dunia islam ( Tarikh 'Alam al-Islami ) pemerintahan daulah Umayyah Karya Muhammad Ahmad Mahmud Hasbullah, guru besar dan dekan fakultas Sejarah dan peradaban Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, hal 38- 39.