Senin, 18 April 2011

Jalaluddien Ar-rumi


                                                    Jalaluddien Ar-rumi

Beliau adalah seorang sufi terkemuka yang sampai sekarang masih dikenang oleh khalayak ramai, baik perjuangan maupun lingkar spiritual yang pernah digeluti. Kespektakuleran dalam dunia tasawuf maupun kepenyairan yang ia tekuni benar-benar menggugah jiwa setiap orang. Hal itu karena ia mampu menyuguhkan beragam pandangan yang berbeda dalam versi dunia, tempat ia mengapresiasikan cinta sejatinya. Meskipun karya sastra menjadi kenikmatan tersendiri dari tarian ilahi yang selalu disenandungkan lewat syi'ir-syi'ir kekhusyukan, tetapi selama itu pula ia tidak pernah nihil untuk memperdalam beribadah terhadap Allah swt.. Sampai-sampai seorang orientalis Inggris Reynold A Nicholson menggambarkan tentang sosoknya,''Dia penyair mistik terbesar sepanjang zaman''. Begitu pula dengan komentar Jami, penyair Persia klasik: ''Ia bukan Nabi, tetapi ia mampu menulis kitab suci''.

Jalaluddien dilahirkan pada tanggal 30 september 1207 Masehi bertempat di Balkh,  yang kini menjadi salah satu kota di Negara Afganistan. Ayah beliau bernama Bahauddin Walad, seorang ulama dan mistikus ulung yang terkenal dengan wawasan pengetahuan. Pun tak jarang berbeda pandangan dengan penguasa. Meskipun ia bisa bertahan dengan kemasyhurannya, tetapi karena perbedaan 'konsep' antara Bahauddin dengan sultan yang berkuasa di kota tersebut, pada akhirnya ia dan keluarga harus terusir dan pindah ke Aleppo (Damaskus). Di tempat inilah Jalaluddien memperoleh banyak ilmu pengetahuan dari ulama-ulama terkenl pada masanya. Hal tersebut yang  nantinya mampu menggiring sosok Jalaluddien pada kemuliaan dan keagungan agama sejati.

Tak lama setelah menetap di Damaskus, Jalaluddien dan keluarganya pindah ke Laranda, sebuah kota di Anatolia Tengah, itupun atas permintaan seorang Sultan benama: Seljuk Alauddin Kaykobad. Kabarnya, dalam proses perpindahan tersebut sang Sultan menulis surat kepada ayahnya dengan kutipan sebagai berikut: ''Kendati saya tak pernah menundukkan kepala kepada seseorang, saya siap menjadi pelayan dan pengikut setia anda''. Tak lama setelah kepindahan mereka di kota yang baru, ibu Jalaluddien, Mu'min Khatum, meninggal. Kemudian dalam usia 18 tahun Jalaluddien menikah dengan dikaruniai seorang anak yang bernama Sultan Walad. Setahun kemudian keluarga Jalaluddien pindah ke Konya, beberapa meter dari kota sebelumnya. Dan di kota inilah ia dikaruniai anak ke dua yang bermana Alauddien. Setelah dua tahun berlangsung, ayah Jalaluddien meninggal dunia pada usia 82.

Era barupun dialami Jalaluddien, dengan mengganti posisi ayahnya dan mengajar ilmu-ilmu ketuhanan tradisional. Pada suatu hari, ia ditemui oleh salah seorang dari murid kesayangan ayahnya, Burhanuddien Muhaqqiq. Setelah menyadari bahwa sang guru telah tiada, Muhaqqiq mewariskan ilmunya pada Jalaluddien dengan mematangkan ilmu tasawuf yang selama ini didalaminya. 8 tahun mereka habiskan untuk menekuni dunia tasawuf, sampai pada akhirnya Muhaqqiq kembali ke Kayseri.

Karena keuletan dan ketangkasannya dalam mendalami beragam seni keilmuan islam,  mampu menempatkan Jalaluddien di atas semua ulama Konya. Pada usianya yang ke 37, 1244 Masehi ia meraih gelar 'Maulana Rumi' (guru bangsa rum).
Ada sebuah peristiwa menakjubkan yang mampu merubah hidup Jalaluddien; lebih memfokuskan studi keilmuannya pada dunia mistik. Hal itu terjadi ketika ia bertemu dengan Syamsuddien Tabriz. Ia menanyakan satu hal yang membuat

Jalaluddien tertarik pada dunia barunya. Sebuah riwayat mengatakan bahwa Syams bertanya: ''Siapa yang lebih agung, Rosulullah yang berdoa, ''Kami tak mengenal-Mu seperti seharusnya', atau seorang sufi Persia Bayazid Bishani yang berkata, 'Subhani, maha suci diriku, betapa agungnya kekuasaanku'…''.

Sejak itu pula Syams dan Jalaluddien menghabiskan waktu bersama-sama, khusyu' menyucikan diri demi cinta ilahi, sampai pada terbunuhnya Syams lantaran kecemburuan warga Konya terhadapnya. Meskipun terbunuhnya Syams membuat Jalaluddien terpukul, tetapi ia tidak lantas berhenti menjalani mistiknya. Apalagi dalam selang beberapa waktu berikutnya ia dipertemukan dengan Shalahuddien, sahabat yang  membuatnya mampu menggubah syi'ir-syi'ir Ilahi. Sampai pada akhirnya Jalaluddien Ar-rumi meninggal pada tanggal 17 desember 1273 dan tidak pernah lepas dari tarian syi'ir-syi'irnya

Minggu, 09 Januari 2011

Pengusa Mesir dari Masa ke masa....

Penguasa Mesir dari Masa ke Masa

639-641                        : Penaklukan Mesir oleh Amru bin Ash
641-661                        : Khalifah Rasyidah, ibukota Madinah
661-750                        : Dinasti Umayyah, ibukota Damaskus
750-870                        : Dinasti Abbasiyah, ibukota Baghdad
868-905                        : Dinasti Thuluniyah

Nama-nama Sultan Dinasti Thuluniyah

868-883         : Ahmad bin Thulun
883-895         : Khumarawiyah bin Ahmad bin Thulun
895-896         : Abu Al-Asakir Gaish bin Khumarawiyah
896-905         : Abu Musa harun bin Khumarawiyah
905                : Syaiban bin Ahmad bin Thulun

905-934                        : Dinasti Abbasiayh, ibukota Baghdad
934-969                        : Dinasti Ikhsyidiyah

Nama-nama Sultan Dinasti Ikhsyidiyah

934-946           : Muhammad bin Tagaj Al-Ikhsyid
946-960           : Abu Al-Qasim Anwajur
960-966           : Abu Al-Misk Kafur
966-969           : abu Al-Fawaris Ahmad bin Ali
969-1171         : Dinasty Fathimiyah

Nama-nama Khalifah Dinasti Fatahimiyah

969-975         : Al-Muizz li Dinillah
975-996         : Al Aziz Billah
996-1021        : Al-Hakim bi Amrillah
1021-1036      : Az-Zhahir li I’zaz Dinillah
1036-1094      : Al-Mustansir Billah
1094-1101      : Al-Musta’li Billah
1101-1130      : Al-Amir bi Ahkamillah
1130-1149      : Al-Hafiz
1149-1154      : Az-Zhafir
1154-1160      : Al-Faiz
1160-1171      : Al-Adhid

1171-1250         : Dinasti Ayyubiyah

Nama-nama Sultan Dinasti Ayyubiyah

1171-1193      : Shalahuddin Al-Ayyubi
1193-1198      : Al-Aziz Utsman Imad Ad-Din
1198-1200      : Al-Mansur Muhammad Nasir Ad-Din
1200-1218      : Al-Adil Abu Bakr Saif Ad-Din
1218-1238      : Al-Kamil Muhammad Nasir Ad-Din
1238-1240      : Al-Adil Ats-Tsani Saif Ad-Din
1240-1249      : As-Shaleh Najm Ad-Din
1249-1250      : Al-Mu’zham Tauran Syah

1250-1517         : Dinasti Mamalik

Nama-nama Sultan Dinasti Mamalik

Mamalik Bahriyah

1250-1257      : Al-Muiz Aybak
1257-1259      : Al-Mansur Ali
1259-1260      : Al-Muzaffar Qutuz
1260-1277      : Az-Zahir Baybars Al-Bunduqdari
1277-1279      : As-Said Baraka Khan
1279              : Al-Adil Salamish
1279-1290      : Al-Mansur Qalawun
1290-1293      : Al-Asyraf Khalil
1293-1294      : An-Nasir Muhammad
1294-1296      : Al-Adil Kitbugha
1296-1299      : Al-Mansur Lagin
1299-1309      : An-Nasir Muhammad (ke 2)
1309-1310      : Al-Muzaffar Baybars Al-Gashankir
1310-1341      : An-Nasir Muhammad (ke 3)
1341               : Al-Mansur Abu Bakar
1341-1342      : Al-Asyraf Kuchuk
1342               : An-Nasir Ahmad
1342-1345      : As-Shalih Ismail
1345-1346      : Al-Kamil Sya’ban
1346-1347      : Al-Muzaffar Hajji
1347-1351      : An-Nasir Hasan
1351-1354`    : As-Shalih Shalih
1354-1361      : An-Nasir Hasan (ke 2)
1361-1363``  : Al-Mansur Muhammad
1363-1377      : Al-Asyraf Sya’ban
1381-1382      : As-Shalih Hajji
1382-1389      : Az-Zahir Barquq
1389-1390      : As-Shalih Hajji (ke 2)

Mamalik Burjiyah

1390-1399      : Az-Zahir Barquq
1399-1405      : An-Nasir Farag
1405              : Al-Mansur Abd Al-Aziz
1405-1412      : An-Nasir Farag (ke 2)
1412              : Al-Mustain Abbas
1412-1421      : Al-Muayad Syaikh
1421              : Al-Muzaffar Ahmad
1421              : Az-Zahir Tatar
1421-1422      : As-Shaleh Muhammad
1422-1438      : Al-Asyraf Barsbay
1438              : Al-Aziz Yusuf
1438-1453      : Az-Zahir Gaqmaq
1453              : Al-Mansur Utsman
1453-1461      : Al-Asyraf Inal
1461              : Az-Zahir Khusqadam
1461              : Az-Zahir Yalbay
1467-1468      : Az-Zahir Timurbugha
1468-1496      : Al-Asyraf Qaitbay
1496-1498      : An-Nasir Muhammad
1498-1500      : Az-Zahir Qansuh
1500-1501      : Al-Asyraf Ganbalat
1501              : Al-Asyraf Tumanbay
1501-1516      : Al-Asyraf Qansuh Al-Ghuri
1516-1517      : Al-Asyraf Tumanbay

1517-1798         : Dinasti Turki Utsmani
1798-1801         : Invasi Napoelon Bonaparte
1805-1848         : Muhammad Ali Pasha
1848-1854         : Abbas Hilmi Pasha I
1854-1863         : Muhammad Said Pasha
1863-1879         : Khedive Ismail
1879-1892         : Khedive Muhammad Taufik
1892-1912         : Abbas Hilmi Pasha II
1914-1917         : Sultan Husain Kamil
1917-1936         : Raja Fuad
1936-1952         : Raja Farouk
1952                  : Revolusi Mesir
                          : Mesir dideklarasikan sebagai Negara Republik
1953-1954         : Presiden Muhammad Naguib
1954-1970         : Presiden Gamal Abdel Nasser
1970-1981         : Presiden Anwar Sadat
1981-sekarang   : Presiden Muhammad Hosni Mubarak

sumber
Caroline Williams, Islamic Monuments in Cairo, AUC Press 2008
Ahmad Abdu Ar-Razzak, Al-Imarah Al-Islamiyah Fi Misr, Dar Al-Fikri Al-Arabi, 2009

Sabtu, 01 Januari 2011

Fly me to the moon

Fly me to the moon.. and let me play among the stars... let me see the spring is like on jupiter and mars.. in other words.. hold my hand..... in other words...Darling Kiss me... Fill my heart with song... and let me sing forever more.. you are all I long for all I worship and adore...in other words please be true.... in other words .. I love you......