OPINI
Antara terjemah dan kemajuan intelektual Islam
Bersyukurlah kita terpilih sebagai pengikut setia
diinullah, agama yang dibawa oleh baginda Rasulullah SAW . Kurang lebih 14 abad
silam islam terlahir di jazirah arab ditandai dengan turunnya wahyu "Al
Furqaan", kitabullah yang menjadi pedoman kita ummat Muhammad. Anugerah
ini merupakan mu'jizat terbesar yang akan selalu terjaga keberadaanya hingga
hari akhir..
Sebagaimana yang kita ketahui saat ini jumlah penganut
islam secara global mengalami peningkatan. Hal ini patut menjadi kebanggan kita
ummat islam, karena dari jumlah yang banyak akan bertambah besar pula kekuatan
Islam. Namun akan lebih sempurna lagi jika kualitas/ intelektualitas kita juga
mengalami kemajuan.
Sejenak mari kita berlabuh ke masa perkembangan Islam.
Berawal menuju tanah suci para sahabat mendatangi Rasulullah untuk membuktikan
kebenaran berita akan adanya ajaran baru. Bahkan ada di antara sahabat yang
datang dari negeri jauh, diantaranya Salman Alfarisi ra . Sampai akhirnya tampu
kepemimpinan islam dilanjutkan oleh khulafaurrasyidin, dan Islam berhasil
menembus benua Asia sampai daerah India ,
bukhara dan
khurasan. Serta benua Eropa yang ditandai dengan takluknya Andalusia .
Berjalan dari masa kemasa terlahirlah para mujahid
sebagai penerus da'wah. Dari merekalah kita banyak belajar memahami isi al
qur'an. Dari sederet nama para ulama turats tersebut kita ketahui dari karya
mereka yang dikaji sampai saat ini, mulai dari tafsir, hadist, fiqh, dll.
Seandainya Allah menjadikan bahasa arab dari dulu
digunakan oleh oarng diseluruh bumi, niscaya dengan mudah kita menkaji Islam.
Namun bukan berarti gugur kewajiban mempelajari Islam hanya karena kita tak
mampu berbahasa arab, sekali lagi bukan.
Banyak cara yang dapat ditempuh untuk menuju kefahaman.
Namun yang terjadi sekarang mulai kalangan awam, terjemah mejadi pilihan. Bukan
hanya mereka , tak sedikit Universitas – universitas baik di Indonesia maupun di Negara asia
lainnya, masih membutuhkan buku diktat yang sudah diterjemahkan. Begitu pula
Negara eropa terjemah sangat membantu mereka.
Tidak hanya buku – buku turats yang dialih bahasakan, Al
qur'an pun kini sudah diterjemahkan dengan 'illat "Li at taisiir"
walaupun ada beberapa ulama yang tidak menyetujuinya dengan alasan demi menjaga
kemurnian al qur'an, terjemah adalah semata karya seorang hamba yang sangat
mungkin terdapat kesalahan didalamnya.
Sedangkan bagi yang memilihnya bependapat tidak ada teks
yang melarang terjemah al qur'an dengan catatan terjemah ma'nawiyah bukan terjemah
harfiah. Ada
kemanfaatan yang di dapat. Diantaranya bagi kaum muslimin minoritas yang
berdomisili di eropa, bagi mereka mengetahui kandungan Al qur'an dari terjemah
dan sebagai wujud kepeduliaan terhadap mereka telah berdiri lajnah khossoh
tarjamah majma' malik fahd. Ada juga maktabah
milik jam'iyyah tablig islamiyyah yang menyediakan al qur'an dan buku – buku
yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa ; Ingrris, Prancis, mandarin, Rusia , India
dll. Di Indonesia pun sudah ada lajnah tashih dan terjemah di bawah naungan
departemen agama.
Banyaknya lembaga terjemah, menujukkan bukti bahwa ia
memang dibutuhkan untuk kemajuan intelektual, Di Indonesia lajnah terjemah
berada di dalamnya para sarjana timur tengah. Mereka beramal / bertugas
melanjutkan misi dakwah islamiyah. Dan hasilnya hampir di setiap toko buku
dijumpai kita – kitab turats dan kontemporer karya ulama timur tengah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bahkan yang berbahasa Inggris pun tidak
sedikit.
Berbeda halnya dengan pesantren – pesantren baik modern
ataupun salafi, para guru membatasi muridnya menggunakan buku – buku terjemah.
Mengapa demikian? Apa sebab?. Menurut hemat penulis selain dari kekurangan yang
banyak dijumpai dari buku- buku terjemah juga karena si murid tidak akan
semakin pandai, ilmu alat atau nahwu, shorof serta balaghoh yang sedang mereka
pelajari akan sia – sia saja. Bagaimana tidak, seolah mereka hanya mau yang
instant tanpa menimbang apa yang mereka ambil.
Alasan lain adalah karena dengan buku terjemah ditangan
akan membuat mereka malas disaat mereka dituntut untuk menyimak dengan baik
keterangan yang disampaikan oleh sang guru.
Ditemukannya terjemah yang keluar jauh dari teks asli
mendatangkan beberapa kemungkinan, diantaranya terjemah bisa saja memberikan
maksud yang bertolak belakang dari pembahasan asli, dan bisa saja mendatangkan
pemahaman yang jauh dari sempurna. Dan nilai keindahan teks bisa juga tidak
lagi terasa. Syi' ir misalnya. Lain yang menterjemahkan suatu syi'ir lain pula
nilai keindahannya.
Dari wacana di atas dapat disimpulkan bahwa terjemah
memang mempunyai andil dalam perkembangan intelektual islam. Namun untuk
beberapa tahun kedepan apakah terjemah masih menjadi pilihan ? kalau tidak,
mengapa ? dan apa yang dapat menggantikannya ? kapan kah itu akan terbukti ?
Bisa saja, setelah dilihat kekurangan – kekurangannya.
Dan tentunya itu ketika orang – orang sadar akan pentingnya belajar bahasa
arab, dan kecintaan terhadap bahasa arab sebagaimana kecintaan mereka pada
bahasa tanah air mereka. Setelah itu mereka akan memilih karya – karya ulama
besar dalam teks berbahasa arab bukan berbentuk tejemah.
Belajar di al azhar, ini merupakan peluang
emas bagi kita. Bagaimanapun juga belajar bahasa arab merupakan bagian dari
agama islam. Seberat apapun tantangannya harus kita hadapi. Sebagaimana yang
diketahui belajar bukan hanya dengan mendengar ceramah doktor di bangku kuliah
atau membaca muqarrar saja, akan lebih bermanfaat lagi ketika meluangkan
sebagian waktu di luar kelas untuk membaca dan bertanya.
Dan dengan pemahaman bahasa arab yang dalam dan kuat
itulah kunci mengetahui ajaran islam yang terkandung di dalam al qur'an dan
hadits. Tidak hanya di sini, tugas kita selanjutnya adalah mengamalkan /
menerapkan ilmu yang di dapat untuk kemudian kita amalkan kepada orang lain,
tugas itulah yang kita sebut dakwah menegakkan Islam.
Wallahu a'lam bisshawaab