Senin, 30 Agustus 2010

Terjemah



OPINI

Antara terjemah dan kemajuan intelektual Islam


Bersyukurlah kita terpilih sebagai pengikut setia diinullah, agama yang dibawa oleh baginda Rasulullah SAW . Kurang lebih 14 abad silam islam terlahir di jazirah arab ditandai dengan turunnya wahyu "Al Furqaan", kitabullah yang menjadi pedoman kita ummat Muhammad. Anugerah ini merupakan mu'jizat terbesar yang akan selalu terjaga keberadaanya hingga hari akhir..

Sebagaimana yang kita ketahui saat ini jumlah penganut islam secara global mengalami peningkatan. Hal ini patut menjadi kebanggan kita ummat islam, karena dari jumlah yang banyak akan bertambah besar pula kekuatan Islam. Namun akan lebih sempurna lagi jika kualitas/ intelektualitas kita juga mengalami kemajuan.

Sejenak mari kita berlabuh ke masa perkembangan Islam. Berawal menuju tanah suci para sahabat mendatangi Rasulullah untuk membuktikan kebenaran berita akan adanya ajaran baru. Bahkan ada di antara sahabat yang datang dari negeri jauh, diantaranya Salman Alfarisi ra . Sampai akhirnya tampu kepemimpinan islam dilanjutkan oleh khulafaurrasyidin, dan Islam berhasil menembus benua Asia sampai daerah India, bukhara dan khurasan. Serta benua Eropa yang ditandai dengan takluknya Andalusia.

Berjalan dari masa kemasa terlahirlah para mujahid sebagai penerus da'wah. Dari merekalah kita banyak belajar memahami isi al qur'an. Dari sederet nama para ulama turats tersebut kita ketahui dari karya mereka yang dikaji sampai saat ini, mulai dari tafsir, hadist, fiqh, dll.

Seandainya Allah menjadikan bahasa arab dari dulu digunakan oleh oarng diseluruh bumi, niscaya dengan mudah kita menkaji Islam. Namun bukan berarti gugur kewajiban mempelajari Islam hanya karena kita tak mampu berbahasa arab, sekali lagi bukan.

Banyak cara yang dapat ditempuh untuk menuju kefahaman. Namun yang terjadi sekarang mulai kalangan awam, terjemah mejadi pilihan. Bukan hanya mereka , tak sedikit Universitas – universitas baik di Indonesia maupun di Negara asia lainnya, masih membutuhkan buku diktat yang sudah diterjemahkan. Begitu pula Negara eropa terjemah sangat membantu mereka.

Tidak hanya buku – buku turats yang dialih bahasakan, Al qur'an pun kini sudah diterjemahkan dengan 'illat "Li at taisiir" walaupun ada beberapa ulama yang tidak menyetujuinya dengan alasan demi menjaga kemurnian al qur'an, terjemah adalah semata karya seorang hamba yang sangat mungkin terdapat kesalahan didalamnya.

Sedangkan bagi yang memilihnya bependapat tidak ada teks yang melarang terjemah al qur'an dengan catatan terjemah ma'nawiyah bukan terjemah harfiah. Ada kemanfaatan yang di dapat. Diantaranya bagi kaum muslimin minoritas yang berdomisili di eropa, bagi mereka mengetahui kandungan Al qur'an dari terjemah dan sebagai wujud kepeduliaan terhadap mereka telah berdiri lajnah khossoh tarjamah majma' malik fahd. Ada juga maktabah milik jam'iyyah tablig islamiyyah yang menyediakan al qur'an dan buku – buku yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa ; Ingrris, Prancis, mandarin, Rusia, India dll. Di Indonesia pun sudah ada lajnah tashih dan terjemah di bawah naungan departemen agama.



Banyaknya lembaga terjemah, menujukkan bukti bahwa ia memang dibutuhkan untuk kemajuan intelektual, Di Indonesia lajnah terjemah berada di dalamnya para sarjana timur tengah. Mereka beramal / bertugas melanjutkan misi dakwah islamiyah. Dan hasilnya hampir di setiap toko buku dijumpai kita – kitab turats dan kontemporer karya ulama timur tengah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bahkan yang berbahasa Inggris pun tidak sedikit.

Berbeda halnya dengan pesantren – pesantren baik modern ataupun salafi, para guru membatasi muridnya menggunakan buku – buku terjemah. Mengapa demikian? Apa sebab?. Menurut hemat penulis selain dari kekurangan yang banyak dijumpai dari buku- buku terjemah juga karena si murid tidak akan semakin pandai, ilmu alat atau nahwu, shorof serta balaghoh yang sedang mereka pelajari akan sia – sia saja. Bagaimana tidak, seolah mereka hanya mau yang instant tanpa menimbang apa yang mereka ambil.

Alasan lain adalah karena dengan buku terjemah ditangan akan membuat mereka malas disaat mereka dituntut untuk menyimak dengan baik keterangan yang disampaikan oleh sang guru.

Ditemukannya terjemah yang keluar jauh dari teks asli mendatangkan beberapa kemungkinan, diantaranya terjemah bisa saja memberikan maksud yang bertolak belakang dari pembahasan asli, dan bisa saja mendatangkan pemahaman yang jauh dari sempurna. Dan nilai keindahan teks bisa juga tidak lagi terasa. Syi' ir misalnya. Lain yang menterjemahkan suatu syi'ir lain pula nilai keindahannya.

Dari wacana di atas dapat disimpulkan bahwa terjemah memang mempunyai andil dalam perkembangan intelektual islam. Namun untuk beberapa tahun kedepan apakah terjemah masih menjadi pilihan ? kalau tidak, mengapa ? dan apa yang dapat menggantikannya ? kapan kah itu akan terbukti ?

Bisa saja, setelah dilihat kekurangan – kekurangannya. Dan tentunya itu ketika orang – orang sadar akan pentingnya belajar bahasa arab, dan kecintaan terhadap bahasa arab sebagaimana kecintaan mereka pada bahasa tanah air mereka. Setelah itu mereka akan memilih karya – karya ulama besar dalam teks berbahasa arab bukan berbentuk tejemah.

 Belajar di al azhar, ini merupakan peluang emas bagi kita. Bagaimanapun juga belajar bahasa arab merupakan bagian dari agama islam. Seberat apapun tantangannya harus kita hadapi. Sebagaimana yang diketahui belajar bukan hanya dengan mendengar ceramah doktor di bangku kuliah atau membaca muqarrar saja, akan lebih bermanfaat lagi ketika meluangkan sebagian waktu di luar kelas untuk membaca dan bertanya.

Dan dengan pemahaman bahasa arab yang dalam dan kuat itulah kunci mengetahui ajaran islam yang terkandung di dalam al qur'an dan hadits. Tidak hanya di sini, tugas kita selanjutnya adalah mengamalkan / menerapkan ilmu yang di dapat untuk kemudian kita amalkan kepada orang lain, tugas itulah yang kita sebut dakwah menegakkan Islam.

Wallahu a'lam bisshawaab


Tidak ada komentar:

Posting Komentar