Senin, 30 Agustus 2010

ARAB PRA-ISLAM


ARAB PRA-ISLAM

Untuk rubrik tarikh yang akan kita angkat pada  kali ini, berkenaan dengan kehidupan arab pra-islam serta status sosial yang telah menjadikannya sebagai salah satu sumber peradaban manusia. Kondisi yang menjadikan daerah arab ini mendapat perhatian banyak dari masyarakat dunia-sampai saat ini- tak lain berawal dari isu munculnya seorang nabi, pun setelah tersiarnya kabar tersebut meluas ke daerah-daerah disekitar; bahwa akan munculnya seorang utusan tuhan, afshohu man nathoqo bi adh-dhoodh, pembawa risalah suci, penuntun umat manusia pada kesempurnaan sejati lewat unsur manusiawi yang dimilikinya.

Dunia arab, sebuah peradaban yang menciptakan pesonanya tersendiri dalam goresan sejarah kemanusiaan. Tepatnya pada awal abad ke-6, ketika kekuasaan politik waktu itu berada dalam dekapan 2 kekuatan; Kristen (yang dipelopori oleh adi kuasa barat) dan Majusi (dalam rangkulan peradaban timur). Bersamaan dengan itu, kedua adi kuasa tersebut berpengaruh besar terdahap kekuasaan-kekuasaan kecil lainnya, tak terkecuali di daerah jazirah arab. apalagi tidak dipungkiri bahwa tujuan mereka tidak lain adalah melakukan ekspansi, penjajahan, mengeruk habis kekayaan yang tersimpan di daerah singgahan mereka sebagaai tanah jajahan. Lebih dari itu, para pemuka agama dari dua kekuatan tersebut berusaha sekuat tenaga untuk menyebarkan agama Kristen dan Majusi sebagai kepercayaan baru, di atas kepercayaan yang sudah lama mereka dapat dari pendahulu mereka.

Menarik memang kalo kita kaji kebih dalam lagi tentang jazirah ini, apalagi ia dengan segala peradaban yang dibangun jelas-jelas berada dibawah kuasa 2 golongan tadi. Kondisi jazirah arab pada waktu itu bisa dianalogikan sebagai sebuah oasis yang kekar dan tidak mudah –bahkan tidak bisa- dijamah oleh perang yang berkecamuk antara keduanya, pun tidak sampai dipengaruhi oleh penyebaran agama yang dilakukan oleh keduanya kecuali beberpa tempat di bagian pinggiran saja serta sebagian kecil kabilah. Gejala yang seperti itu tidaklah aneh kalau kita memperhatikan lebih dalam lagi berkenaan dengan letak dan iklim jazirah  tersebut, ciri khas maupun watak  dan kecenderungan masyarakat setempat. Tak luput pula pengaruh kedua kuasa tadi terhadap kehidupan penduduknya dengan mempertimbangkan persamaan dan perbedaan masing-masing golongan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa jazirah arab bentuknya memanjang dan tidak paralleogram. Daerah yang membatasi kawasan tersebut dari sebelah barat sampai selatan adalah lautan, sedangkan dari utara sampai timur dipenuhi oleh padang sahara dan teluk Persia. Ternyata, alasan tidak terjamahnya daerah ini dari beragam peperangan dan penyebaran agama bukan saja disebabkan oleh rintangan yang telah melindunginya dari pengaruh luar, akan tetapi juga jaraknya yang saling berjauhan. Panjangnya semenanjung tersebut mencapai seribu kilometer lebih dan luasnya pun mampu mencapai seribu kilometer. Terlebih lagi, tandusnya area ini membuat para penjajah enggan menyinggahinya. Jangankan mengharap adanya sebuah sungai yang mengalir, turunnya hujan sebagai pegangan untuk mengatur usaha mereka pun tidak menentu. Kecuali daerah Yaman yang memang terkenal sebagai daerah subur dan cukup hujan. Sedangkan daerah arab lainnya terdiri dari gunung-gunung, daratan tinggi, lembah-lembah tandus serta alam dengan segala kegersangannya.

Tak mudah menaklukkan tempat ini untuk dijadiakan daerah yang bisa memberi penghidupan yang layak. Orang-orangnya harus mengembara dengan mrnggunakan transport onta di sahara yang tandus demi mencari daerah subur untuk ternak mereka. Dan ketika daerah subur ini habis dikelola, meraka lanjutkan perjalanan untuk mendapatkan tempat yang cukup bagi kehhidupan mereka sehari-hari.
Tempat- tempaat beternak yang dicari oleh orang-orang baduwi biasanya di sekitar mata air yang bersumber dari bekas air hujan dan bermuara dari celah-celah batu di daerah tersebut. Pantas saja orang-orang dahulu tidak mengenal peradaban yang muncul dari daerah ini selain Yaman.

Sementara itu, sektor ekomoni menjadi salah Satu kegiatan yang banyak digandrungi oleh masyarakat pada waktu itu. Dan cabang ekonomi yang ramai dijalankan adalah ''perdagangan''. Jalur transport terpenting antara timur dan barat pada waktu itu adalah Romawi, India dan sekitarnya. Jazirah arab merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang disebranginya; yaitu melalui mesir atau teluk Persia. Dari sinilah mulai dikenal istilah raja-raja sahara, kelompok arab yang benar-benar mengetahui segala bentuk dari seluk-beluk jalur para kafilah sampai ke tempat-tempat yang berbahaya. Alam telah memberikan mereka tempat bersinggah di area-area tandus yang disana terdapat pohon kurma sebagai tempat berteduh serta sumber mata air tawar yang mengalir di sekitarnya. Tempat-tempat peristirsahatan tersebut juga menjadi gudang perdagangan mereka dan sebagian lagi dipakai sebagai tempat ibadah, memohon perlindungan atasdiri mereka dan barang dagangan yang mereka bawa.

Dari sinilah lingkungan jazirah dipenuhi oleh jalan kafilah yang terbentuk menjadi dua jalur besar; timur dan barat. Akan tetapi hal tersebut tidak menambah pengetahuan barat maupun timur karena sukarnya menempuh serta menaklukkan dareah-daerah tersebut. Ditambah lagi dengan watak dan cirri khas setiap kabilah yang hanya menjalin hubungan baik dengan golongannya sendiri atau  dengan adanya sumpah setia kawan yang diikrarkan sebagai perlindungan bertetangga. Kentalnya fanatisme –ta'asshub- dalam diri kabilah-kabilah arab membuat golongan lain tidak tertarik untuk melakukan penyelidikan dan hubungan lebih dalam dengan mereka. Hal tersebut ditambah dengan cara hidup keras; permusuhan dibalas dengan permusuhan, menindas yang lemah, menjunjung tinggi yang kuat serta tidak bosan mengahiri setiap perselisihan dengan perang dan darah.

Oleh karena itu, semenanjung Arab tidak dikenal oleh dunia pada wktu itu. Sampai pada akhirnya Nabi Muhammad, saw lahir dan menyebarkan agama islam. Sosok yang benar-benar dijanjikan oleh Allah sebagai rahmatan lil'alamien.

Wallahu a'lam…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar