Manusia diciptakan oleh Allah dengan berbagai aneka ragam bangsa, budaya dan bahasa. Semua ini dimaksudkan agar manusia bisa saling mengenal satu sama lain. Karaena dari perbedaanlah akan muncul persaudaraan, toleransi, dan kerjasama yang bias menjadi ladang pahala bagi setiap manusia.
Sebahagian besar pakar sepakat bahwa peran utama dari bahasa adalah sebagai alat komunikasi, tidak hanya untuk mengkomunikasikan antara dua individu akan tetapi bahasa juga untuk menghubungkan dua budaya, dua bangsa atau dua agama yang berbeda, karena tampa bahasa manusia tidak akan bisa menjabarkan apa yang ada didalam benaknya agar bisa dipahami oleh orang lain.
Dengan bahasa manusia dapat menyesuaikan diri, tingkah laku, tata karma dan adat istiadat bangsa lain, dan juga untuk mempermudah manusia dalam pergaulan.
Ketika manusia menjadi makhluk sosial maka secara otomatis ia membutuhkan masyarakat lain untuk saling bisa mengisi dan melengkapi, dan alat yang digunakan adalah bahasa, akan tetapi ketika berhadapan dengan b ahasa lain maka kita akan membutuhkan perangkat lain untuk memahami perangkat komunikasi utama manusia (bahasa), perangkat tambahan itu adalah penterjemahan.
Kalau kita melihat sejenak ke masa kegemilangan islam, khususnya ketika dinasti 'abbasiyyah berkuasa, para penguasa seperti Harun Ar-Rasyid dan Al-Ma'mun memberikan perhatian khusus terhadap penterjemahan, bahkan sampai membentuk badan khusus yang fokus ,menterjemahkan karya-karya besar ilmuan yunani, hindi, Persia dan lain sebagainya , setelah perpustakaan darul hikmah didirikan, terdapat lebih banyak lagi buku dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dari bangsa lain diterjemahkan kedalam bahasa arab, bahkan ketika Al-Ma'mun berkuasa ia menyurati raja romawi dan mengirimkan sekelompok ilmuan penterjemah untuk menterjemahkan karya karya yang sudah langka, dalam berbagai disiplin ilmu, untuk kemudian dikumpulkan di perpustakaan perpustakan sekitar bagdad yang ketika itu menjadi kiblat para penuntut ilmu. Mereka juga menterjemahkan buku karya-karya filusuf yunani, buku kedokteraan, matematika, ilmu falak, ilmu perbintangan, dan juga terdapat banyak buku-buku hikmah yang diterjemahkan dari bahasa hindi, persi, dan suryani, dengan tambahan karya terjemahan ini umat islam dapat bangkit untuk memimpin peradaban dunia dengan waktu yang sangat singkat.
Masyarakat barat sudah mengakui kehebatan ilmuan islam dalam berbagai bidang seperti: Jabir bin hayyan, Al-kindi, Al-khawarizmi, Ar-razy, Hunain bin Ishaq, Al-faraby, At-tabari, Al-biruny, Ibnu sina, Hasan bin hisyam dan lain-lain. Masyarakat eropa pada abad pertengahan berada dalam cengkaraman gereja, mereka tersesat didalam kegelapan, mereka tidak dapat melihat cahaya kecuali hanya setitik, dan cahaya ilmu pengetahuan itu bersinar dari lembaran buku-buku karya ulama islam abad itu, baik buku sastra, filsafat, dan teknik. Dan Bagdad, Basrah, Kairo, Damaskus, Persia, Qordoba adalah pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan diwaktu yang sama kota-kota eropa lebih mirip seperti kampung-kampung yang tidak menarik perhatian manusia yang hidup di zaman itu. Bagaimana mereka bisa berinteraksi dengan ilmu yang sudah dihasilkan oleh ilmuan islam yang sebahagian besar tertulis dengan bahasa arab kalau tidak dengan perantara penterjemah(salah satunya).
Terdapat banyak mamfaat yang dapat kita raih dari terjemah, diantaranya adalah untuk pengayaan khazanah keilmuan, karena dengan banyaknya karya bangsa lain yang ditrerjemahkan kedalam bahasa induk semakin memperkaya wacana keilmuan yang dimiliki, sehingga bisa memungkinkan mengadakan perbandingan dan menghasilkan nilai-nilai yang bisa diaplikasikan kedalam masyarakat.
Akan tetapi terjemah juga memiliki sisi negatif, karena ketika membaca karya terjemahan maka kita tidak membaca langsung teks buku asli (pembacaan sekunder), dan bisa saja kita akan mendapatkan pemahaman lain ketika kita membaca teks buku asli. Apalagi sebagai seorang mahasiswa seyogyanya bisa memberikan penerangan kepada masyarakat bukan malah melahap karya terjemahan, padahal kita paham bahasa buku asli ketika belum diterjemahkan. Bukankah kita adalah sebahagian dari golongan yang pergi untuk memperdalam ilmu agama agar bisa mengingatkan masyarakat ketika mereka lupa?
Mesir adalah salah satu contoh Negara yang sangat memperhatikan transformasi keilmuan, mereka memiliki proyek besar dalam menterjemahkan karya-karya ilmuan barat, dengan harapan mesir bisa menjadi Negara dengan peradaban maju. Akan tetapi tidak seperti ini nasib penterjemahan di Indonesia. Pemerintah Indonesia belum bisa berperan aktif, mereka hanya bersifat pasif(untuk tidak dikatakan cuek).
Idealnya Negara bisa berperan dalam pengembangan kemampuan penterjemah, sehingga bisa meminimalisir kesalahan atau pereduksian makna yang bisa saja terjadi dalam setiap proses penterjemahan. Sebagaimana kita ketahui bahwa kosa kata bahasa Indonesia tidak sekaya bahasa arab atau inggris sehingga banyak terdapat kata yang tidak memiliki terjemahan kata didalam bahasa Indonesia, dan disinilah para ahli bisa berperan sehingga kemungkinan kesalahan bisa ditekan.
Keterlibatan penguasa dalam transformasi keilmuan ini menandakan akan pentingnya fungsi penterjemahan dalam pengembangan khazanah keilmuan bagi setiap bangsa, ketika suatu bangsa ingin bangkit maka –sedikit atau banyak—ia harus bercermin kepada bangsa yang lebih dahulu maju, dan ini bukan sebuah aib yang harus dihindari karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.
Kemajuan suatu bangsa sangat tergantung kepada usaha dari bangsa itu sendiri, dan penterjemahan adalah salah satu bukti kerja nyata yang sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia pada saat sekarang ini, walaupun didalam dunia penterjemahan masih banyak lahan abu-abu yang harus terus dibenahi sehingga bisa lebih jelas. Segala sesuatu butuh pengelolaan yang bagus agar membuahkan hasil yang bagus juga , bukankah pohon yang diberi air yang cukup akan berbuah lebih baik daripada pohon yang tidak mendapatkan suplai air yang cukup?? Wallahu a'lam bi as-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar